10 Kejadian Menarik Selama Perhelatan Asian Games 2018: Unforgettable Moment!

Belum bisa move on dari Asian Games 2018? Sama! Terlalu banyak momen-momen tak bisa dilupakan begitu saja. Drama, kejutan, tawa dan tangis semua bercampur. Ada tawa dan tangis yang membaur. Ada perjuangan yang tak kenal lelah. Hingga banyak sejarah yang tercipta di sini. Kita pasti akan merindukan momen itu. Rasanya baru kemarin Asian Games dibuka. Masih segar di ingatan kita semua kejadian itu.

Salah satu yang menarik perhatian adalah Jonatan Christie atau biasa disapa Jojo. Bukan hanya pecinta bulutangkis saja, saat ini hampir semua orang di Indonesia mengenal pemuda kelahiran 15 September 1997 ini. Selain berkat kepiawainnya bermain tepok bulu angsa hingga mengantarkannya menjadi jawara Asian Games 2018 di nomor tunggal putra, ada hal lain yang kemudian menjadikannya viral hingga dikenal seantero negeri.

Nah, selain Jojo’s effect (begitu saya menyebutnya), ada banyak sekali kejadian-kejadian menarik dan penuh drama selama pagelaran Asian Games 2018 berlangsung. Untuk itu, berikut ini saya rangkum 10 kejadian menarik selama perhelatan Asian Games 2018.

  1. Atlet Pencak Silat yang Menyatukan Jokowi dan Prabowo
Hanifan Yudani
Momen Langka Jokowi dan Prabowo Berpelukan

Kejadian ini sangat spontan. Dia adalah Hanifan Yudani, atlet Pencak Silat Kelahiran Soreang, 25 Oktober 1997. Ia menang atas wakil Vietnam, Thai Linh Nguyen di nomor putra kelas C 55-60 kg pada hari Rabu, 29 Agustus 2018.

Kita semua tahu jelas, saat ini Indonesia tengah memasuki tahun politik yang semakin memanas. Setelah Pilkada serentak berakhir, kini saatnya memasuki tahun yang lebih krusial; Pemilihan Presiden dan Pemilihan Umum. Di media mainstream terlihat banyak sekali elit politik bersilat lidah. Menebar berbagai statemen yang kian hari kian memanas. Di media sosial tidak kalah ramai, warganet saling serang hingga julukan “Cebong” dan “Kampret” begitu populer. Tidak ada satupun yang mau mengalah. Hingga oase di tengah gurun pasir itu datang, ia adalah Hanifan Yudani.

Dikabarkan, tindakan memeluk kedua bakal calon presiden Republik Indonesia tersebut berlangsung spontan. Sebelumnya Hanifan melakukan selebrasi berlari mengelilingi arena tarung dengan membentangkan bendera merah putih.  Beberapa saat ia kemudian menuju tribun kehormatan untuk menyalami satu persatu pejabat yang ada di sana. Puncaknya adalah ketika ia menarik lengan Jokowi untuk mengajaknya berpelukan bersama dengan Prabowo.

Di lain kesempatan, Hanifan yang ditanya langsung oleh presenter SCTV menjelaskan bahwa awal mula ia berlari naik ke tribun kehormatan adalah karena melihat banyak orang-orang penting yang hadir. Kesempatan itu tidak disia-siakan, tanpa pikir panjang ia berlari naik menemui mereka. Hingga momen itu terjadi, dengan spontan ia memeluk Prabowo dan Jokowi secara bersamaan.

Banyak warganet yang merespon positif kejadian itu. Kebanyakan mengatakan bahwa apa yang dilakukan oleh Hanifan adalah langkah tepat di tengah hiruk-pikuk politik yang terus memanas. Sudah waktunya untuk kita berdamai, karena SEMUA UNTUK INDONESIA.  Begitu yang kemudian dikatakan Jokowi melalui vlognya dan Prabowo melalui posting instagram-nya.

  1. Indonesia Borong Emas dari Pencak Silat

Pada Asian Games 2018 ini Indonesia memberikan banyak sekali kejutan manis, salah satunya datang dari cabang olahraga Pencak Silat. Dari 16 nomor yang dipertandingkan, Indonesia sukses menyabet 14 medali emas dan satu medali perunggu. Satu kata yang tepat: luar biasa!

Ini adalah pencapaian fantastis bagi kontingen Indonesia. Padahal target emas dari cabang ini semula ‘hanya’ 2 emas. Pencapaian luar biasa ini tentu adalah buah kerja keras semua bidang di dalamnya. Ini juga sekaligus sebagai pembuktian setelah di Sea Games 2017, kontingen Pencak Silat Indonesia merasa dicurangi berkali-kali.

Pencak Silat adalah salah satu cabang olahraga yang baru pertama kali ini diselenggarakan di Asian Games. Meskipun ini merupakan seni bela diri asli Indonesia, tapi nyatanya di Sea Games sebelum-sebelumnya Indonesia belum pernah sampai sedominan ini menguasai emas. Contoh terdekat, pada Sea Games Kuala Lumpur Indonesia ‘hanya’ meraih 2 emas, 4 perak dan 9 perunggu (sumber: mediaindonesia.com), meleset dari target awal yang mematok 3 emas.

  1. Tenis Berhasil Meraih Emas Kedua di Asian Games

Adalah Aldila Sutjiadi/Christopher Rungkat yang mencatatkan sejarah manis untuk Indonesia. Ini adalah kali kedua Indonesia meraih medali emas dari cabang olahraga tenis. Kenapa ini menjadi begitu manis? Karena tenis merupakan salah satu olahraga bergengsi yang juga dipertandingkan di olimpiade. Terakhir Indonesia mendapatkan medali emas dari cabang ini adalah pada tahun 1990 di Beijing, melalui pasangan Yayuk Basuki/Suharyadi.

Baca juga:  Menpora Soal Tewasnya Jakmania

Aldila/Christo berhasil meraih medali emas setelah menundukkan pasangan Thailand, Luksika Kumkhum/Sonchat Ratiwatana dengan skor 6-4, 5-7, 10-7 di Jakabaring Tenis Center, Sabtu, 25 Agustus 2018. Ini juga merupakan medali satu-satunya yang berhasil diraih Indonesia di Asian Games 2018 dari cabang olahraga tenis.

  1. Pembukaan Asian Games 2018

Indonesia sebagai tuan rumah telah sukses menyelenggarakan Asian Games dengan pembukaan yang begitu mengagumkan. Masyarakat internasional memuji dan banyak yang menganggap pembukaan Asian Games 2018 adalah Pembukaan Asian Games terbaik. Dari semua hal itu, yang paling mendapat sorotan adalah ketika Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo memasuki Stadion Glora Bung Karno tempat pembukaan Asian Games 2018 berlangsung.

Aksinya mengedarai motor dalam video pembukaan Asian Games 2018 begitu fenomenal dan sukses menuai pujian dunia internasional. Dalam video tersebut terlihat berbagai macam atraksi ditampilkan oleh Presiden Indonesia. Terlepas dari aksinya yang memang dilakukan oleh stunt rider, konsep pembukaan dan keterlibatan presiden di dalamnya sungguh luar biasa dan membuat banyak orang tercengang.

Publik Internasional Memuji Pembukaan Asian Games 2018 yang Fenomenal
Pujian dari Netizen Korea (1)

 

Seperti yang sudah disaksikan jutaan pasang mata dan menjadi viral, video tersebut memperlihatkan Jokowi yang semula keluar dari Istana Bogor untuk menuju ke lokasi pembukaan Asian Games dengan mobil dan iring-iringan Paspampres. Namun ternyata di tengah jalan terjadi kemacetan karena terhalang oleh suporter Indonesia yang memenuhi jalanan.

Jokowi kemudian berinisiatif keluar dan meminta motor yang sebelumnya dikendarai oleh Paspampres. Ia lalu memulai aksinya dengan akrobatik dan meliuk-liuk di gang-gang kecil, hingga mampu menembus kemacetan yang menghalangi.  Berbagai atraksi dipertontonkan dalam video itu hingga ditutup dengan manis oleh sambutan meriah penoton yang hadir di GBK setelah Jokowi berhasil datang tepat waktu.

Publik Internasional Memuji Pembukaan Asian Games 2018
Pujian dari Netizen Korea (2)

Aksi yang benar-benar mengagumkan. Wajar saja jika kemudian warganet internasional turut memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas pembukaan Asian Games yang begitu memukau. Tak sedikit yang kemudian menyarankan sebaiknya Indonesia turut menjadi tuan ruah Olimpiade atau ajang-ajang besar lainnya.

Satu kata: Luar Biasa!

  1. Jojo’s Effect
Jojo's Effect
Selebrasi Jojo yang Menjadi Viral (Jojo’s Effect)

Di antara beberapa kejadian menarik selama perhelatan Asian Games 2018, mungkin ini adalah salah satu yang paling viral. Jojo’s Effect. Adalah selebrasi unik yang dilakukan Jojo ketika merayakan kemanangan dan hal itu sukses menarik perhatian banyak orang, terutama kaum hawa. Sebenarnya tidak terlalu unik karena selebrasi seperti itu di dunia olahraga sudah sering dilakukan atlet dari berbagai cabang olahraga.

Warganet kemudian ramai membicarakannya hingga viral. Bahkan beberapa acara gosip turut membahas soal itu. Bukan tentang kemenangan yang berhasil diraih, tapi justru soal selebrasi uniknya yang terjadi di Semi Final dan kembali dilakukan di Final. Bahkan yang lebih mengejutkan lagi, aksinya ini membuat ia kebanjiran follower bak selebgram. Saat ini follower instagram-nya sudah mencapai 1,7 juta dan masih akan terus bertambah.

Pemain badminton Indonesia bernama lengkap Jonatan Christie ini sukses merengkuh medali emas setelah sukses menundukkan semua lawan-lawan tangguh di Asian Games 2018. Di semi final ia mengalahkan Kenta Nishimoto, dengan pertarungan ketat tiga gim. Namun lawan terberat sebenarnya terjadi pada R2, saat itu ia berhasil menundukkan unggulan pertama asal Tiongkok, Shi Yuqi dengan pertarungan ketat tiga gim, 21-19, 19-21, dan 21-17.

Harapan kita tentu saja Jojo tidak terlena dengan semua ketenaran ini. Ia harus fokus karena tanggal 11 September nanti harus sudah bertanding di Japan Open Super 750. Ia harus mampu membuktikan bahwa tanggapan orang bahwa ia jago kandang adalah salah besar. Namun begitu, hambatan yang cukup sulit harus ia hadapi di Ronde 2 jika berhasil mengalahkan lawannya di Ronde 1. Karena di Ronde 2 ia kemungkinan besar akan melawan rekan senegaranya, Anthony Sinisuka Ginting.

  1. Tagar #SaveLuisMilla

Ini adalah bukti nyata dari kekuatan netizen. Beberapa saat setelah Tim Nasional Sepak Bola Indonesia kalah terhormat dari Uni Emirat Arab dengan skor 4-3 melalui adu pinalti, beredar banyak sekali tagar #saveluismilla. Saya sendiri ikut menyebar tagar tersebut.

Baca juga:  7 Fakta Menarik Seputar Sudirman Cup, Termasuk Asal Nama Sudirman

Tidak bisa dipungkiri, hal ini lantaran Indonesia bermain luar biasa. Kalau saja wasit asal Australia itu bisa lebih adil dalam memimpin pertandingan, mungkin hasil akan berbeda. Indonesia tidak kalah, dari segi permainan Indonesia luar biasa. Jauh meningkat dibandingkan Indonesia yang sebelumnya. Meskipun nyatanya target dipatok oleh PSSI tidak tercapai.

Hal lain yang diduga banyak orang menjadi alasan kuat Luis Milla akan diganti adalah karena gaji yang terlalu tinggi. Dikutip dari laman bolalob, gaji pelatih kepala Timnas Indonesia ini adalah sebesar 7,2 Milyar per tahun. Bahkan ada beberapa netizen yang berpikiran negatif bahwa PSSI lebih suka Indonesia kalah karena sudah tidak sanggup membayar gaji pelatih.

Meskipun demikian, ketua umum PSSI, Edy Rahmayadi menampik hal itu. Ia menjelaskan bahwa yang menjadi penentu Luis Milla dipertahankan atau tidak adalah hasil dari rapat anggota EXCO PSSI (dikutip dari laman goal). Dan soal gaji, Ia juga menjelaskan bahwa itu sama sekali bukan masalah.

Hingga kabar terakhir yang diketahui, PSSI sudah menggelar rapat dan diputuskan bahwa kontrak pelatih Luis Milla akan diperpanjang satu tahun. Namun sampai saat ini mantan pelatih Timnas Spanyol U-21 itu belum juga memberi jawaban karena masih sakit hati dengan kekalahan Indonesia. Ia saat ini masih berlibur bersama keluarganya di Spanyol.

  1. Beberapa Cabang Olahraga yang Mendapatkan Medali Emas Pertama Sepanjang Sejarah Asian Games

 

  1. Taekwondo

Emas pertama Indonesia dibuka dari cabang olahraga Taekwondo. Dia adalah Defia Rosmaniar yang mendapatkan emas setelah mengalahkan atlet Iran dari nomor Poomsae. Selain menjadi emas pertama di Asian Games 2018, ternyata emas ini merupakan yang pertama kali diraih Indonesia sepanjang keikutsertaannya di Asian Games dari cabang olahraga Taekwondo. Desfiar kemudian dianggap memotivasi atlet-atlet lain untuk turut menyumbangkan emas di Asian Games kali ini bagi kontingen Indonesia.

  1. Weightlifting

Adalah Eko Yuli Irawan yang mencatatkan namanya sebagai peraih medali emas angkat besi dari nomor 62 kilogram. Ia merupakan atlet angkat besi senior Indonesia berusia 29 tahun yang sudah berkali-kali meraih medali emas di Sea Games. Semakin bersejarah karena ini adalah kali pertama bagi Indonesia dan Eko Yuli meraih medali emas dari cabang olahraga angkat besi di Asian Games. Selamat, Eko Yuli Irawan!

  1. Mountain Bike Cycling

Ada beberapa cabang olahraga yang baru dipertandingkan di Asian Games 2018 ini, salah satunya adalah Balap Sepeda Gunung. Dari cabang olahraga ini Indonesia sukses menambah 2 medali emas. Mereka adalah Khoiful Mukhib di nomor downhill putra dengan waktu tercepat 2 menit 16,687 detik dan Tiara Andini Prastika dengan nomor downhill putri.

  1. Paragliding

Paragliding merupakan salah satu cabang olahraga yang pertama kali dipertandingkan di Asian Games dan sukses menyumbangkan medali emas. Rinciannya adalah 1 medali emas yang diraih tim beregu putra untuk ketepatan medarat dan 1 medali perak dari beregu putri untuk nomor yang sama.

  1. Sport Climbing

Sport Climbing juga merupakan cabang olahraga yang pertama kali dipertandingkan di Asian Games. Meskipun baru, tapi Indonesia sukses menjadi juara umum dengan raihan 3 emas, 2 perak, dan 1 perunggu. Bahkan capaian ini terasa lebih manis karena di nomor beregu putra dan tunggal putri Indonesia sukses menempatkan kedua wakilnya di final, alias all Indonesian final. Hal ini tentu saja meningkatkan kepercayaan diri atlet untuk menyambut Olimpiade Tokyo 2020 yang juga akan mempertandingkan cabang ini.

  1. Pencak Silat

Seperti Sport Climbing, Pencak Silat merupakan cabang olahraga yang baru pertama kali dipertandingkan di Asian Games. Dengan 16 nomor yang dipertandingkan, Indonesia sukses meraih 14 medali emas dan satu medali perak. Benar-benar luar biasa. Ini jauh melampaui target yang sebelumnya hanya menargetkan 2 medali emas.

  1. Sepak Takraw

Selain menjadi emas pertama dari cabang olahraga Sepak Takraw sepanjang sejarah keikutsertaan Indonesia di ajang Asian Games, emas ini terasa lebih spesial karena menjadi emas penutup untuk Indonesia di Asian Games 2018. Kalau emas pembuka di Asian Games 2018 datang dari Taekwondo, maka emas terakhir, atau ke-31 Indonesia datang dari Sepak Takraw. Sungguh perjuangan yang luar biasa. Di partai final, Mas Ipul dan kawan-kawan sukses mengandaskan perlawanan Jepang dengan skor akhir 2-1.

Baca juga:  Indonesia Tinggal Curi Dari Nomor Tunggal Untuk Kalahkan Thailand

 

  1. Aksi Heroik Ginting

Selain Jojo, di cabang olahraga badminton ada juga yang viral dan ramai mejadi perbincangan warganet. Dia adalah Anthony Sinisuka Ginting, pemain tunggal putra badminton Indonesia. Kali ini bukan karena aksi selebrasinya, melainkan perjuangan yang ia tunjukkan saat bertanding. Seluruh penonton, yang menyaksikan terharu menyaksikan pejuangannya.

Itu terjadi di partai puncak nomor beregu putra Asian Games 2018, Indonesia berhadapan dengan Tiongkok. Saat itu Ginting turun di partai pertama berhadapan dengan Shi Yuqi. Dengan pertarungan ketat yang dimainkan keduanya, mereka harus menyelesaikan pertandingan dengan rubber set setelah Ginting menang di gim pertama dan Shi Yuqi menang di gim kedua. Nahas bagi Ginting, karena sebelumnya ia sudah memainkan rubber set tiga hari berturut-turut. Puncaknya adalah di partai final ini.

Saat kedudukan poin 19-19 di gim ketiga, Ginting terkapar. Kakinya keram hingga tak bisa ditekuk. Terlihat jelas otot kakinya tertarik. Penonton harap-harap cemas, presiden dan jajarannya (juga menteri Olahraga) yang duduk di tribun kehormatan berdiri menyaksikan hal itu. Bukan hanya penonton di Istora, saya rasa semua penonton layar kaca khawatir dengan apa yang terjadi dengan ginting. Di saat kemenangan sudah tinggal beberapa poin lagi petaka terjadi.

Wasit terus meminta Ginting untuk berdiri karena sudah tidak ada toleransi lagi. Di tengah kejadian itu penonton semakin riuh, beberapa di antaranya terus menyemangati Ginting. Kemudian tim medis masuk, memberikan sedikit perawatan ekstra.

Shi Yuqi tidak protes, iya tahu Ginting sedang bermasalah dengan kakinya. Ia memaklumi. Bahkan kalaupun Shi Yuqi ingin protes, tentu itu adalah hal yang wajar. Tapi tidak dilakukan, ia menunggu dengan sabar hingga ternyata Ginting mampu bangkit lagi.

Setelah mendapatkan beberapa perawatan ternyata Ginting mampu bangkit. Ia menolak menyerah, meski dengan kaki kiri yang kaku. “Saya ingin menyelesaikan pertandingan!” Mungkin begitu yang dikatakan Ginting kepada wasit. Melihat Ginting yang seperti itu, saya kira banyak yang menitikkan air matanya.

Skor berlanjut menjadi 20-19 untuk keunggulan Ginting. Istora semakin riuh, terlihat Imam Nahrowi, Menteri Pemuda dan Olahraga masih berdiri menyaksikan pertandingan. Suasana semakin tegang. Harap-harap cemas menanti satu poin lagi untuk Ginting mampu memenangkan pertandingan.

Game berlanjut dan skor menjadi sama kuat 20-20. Ginting tak mampu lagi berlari, ia hanya berjalan dan berusaha menggapai bola dengan satu kaki yang sudah tak berfungsi normal. Game kembali berlanjut menjadi 21-20 untuk keunggulan Shi Yuqi.

Setelah itu Ginting berjalan ke arah wasit. Entah apa yang dibicarakan, yang jelas badannya ambruk setelah itu. Lalu wasit menyatakan pertandingan berakhir dan kemenangan untuk Shi Yuqi. Beberapa saat kemudian Ginting ditandu keluar lapangan diiringi gemuruh tepuk tangan dari seisi Istora Senayan. Ginting telah memperlihatkan perjuangan yang luar biasa. Bahkan ketika itu harus dilakukan dengan satu kaki.

Bukan hanya Ginting, tapi Shi Yuqi juga sangat pantas mendapatkan apresiasi. Ia dengan sabar menunggu Ginting bangkit kembali. Tidak ada sedikitpun protes yang dilakukan meskipun Ginting terus mengulur waktu. Bahkan  di poin kritis tidak terlihat sedikitpun nafsu yang menggebu-gebu dari Shi Yuqi untuk mengalahkan Ginting. Ia hanya bermain safe dengan mengeluarkan bola-bola aman, tanpa smash atau pukulan mematikan. Padahal jika ia mau, itu bisa saja dilakukan dan tidak masalah.

Puncaknya terjadi ketika Ginting menyerah dan terkapar di pinggir lapangan, Shi Yuqi yang menyaksikan itu langsung menghampiri Ginting dan menyalaminya. Tidak ada selebrasi berlebihan yang ia tunjukkan. Tidak sedikit pun.

Beginilah seharusnya sebuah pertandingan berlangsung. Kemenangan adalah hadiah dari sebuah perjuangan. Karena tujuan sesungguhnya adalah sportifitas.

Meskipun Indonesia saat itu harus mengakui keunggulan Tiongkok dengan skor 3-1, mereka tetap mendapatkan apresiasi yang setinggi-tingginya dari publik tanah air. Apalagi mengingat perjuangan Anthony Sinisuka Ginting. Dengan keadaan satu kakinya yang keram, ia tetap memaksa melanjutkan pertandingan. Ginting, kamu luar biasa!

 

Share This: