Ular yang Bersarang dalam Kepalaku

Cerpen Yuditeha

Bapak sudah biasa marah-marah, dan untuk bisa marah tidak perlu alasan besar. Alasan sepele pun cukup membuatnya begitu. Sepertinya sebutan marah kurang cocok, karena menurutku yang dilakukan bapak lebih dari itu. Lebih mengarah ke murka. Dalam kemurkaannya, apa pun bisa dibuatnya berantakan, bahkan untuk melampiaskannya, bapak tak segan menendangku, juga kepada ibu. Saking sudah terbiasa, aku sudah tidak heran dan kaget saat mendapati bapak murka, tapi ular yang bersarang dalam kepalaku tidak begitu. Demikian juga kali ini. Pada saat bapak mulai melempar apa yang ada di dekatnya, tak lama kemudian bapak mendekati kami, mulai menendangku dan memukuli ibu. Aku berusaha tabah dan tenang, tapi ular di kepalaku mulai beraksi.

 “Keparat! Biadab!” Kudengar ular yang bersarang dalam kepalaku berteriak.

Aku menganggap ular itu telah menyatu dengan diriku, jadi aku berusaha menenangkannya tanpa harus berucap. Cukup kupegang kepalaku, kuharap dia tahu yang kumau. Aku ingin dia tidak banyak tingkah. Karena jika itu terjadi, aku akan tersiksa. Tapi ular itu tidak bergeming. Dia menjulurkan lidahnya berulang, hingga ujungnya kerap menyentuh bongkahan otakku tepat pada titik-titik syaraf. Ekornya bergerak ke kanan dan ke kiri seperti menampar-nampar dinding tengkorakku. Kepalaku seperti ditusuk-tusuk jarum paling runcing. Seluruh isi batok kepalaku ngilu dan sesekali muncul kejut, seperti terkena setrum. Jika tingkah ular tidak segera berhenti dalam rentang waktu sebelum lima menit, badanku akan kejang. Tubuhku lemas seperti lumpuh. Sekarat dengan mulut penuh cairan putih berbusa. Itulah puncak deritaku, yang  sesungguhnya puncak dari kegilaan ulah ular di kepalaku.

Teman-temanku dan semua orang yang mengenalku di tempat tinggal kami yang dulu tahu kalau di kepalaku ada ular. Bagi mereka, keadaanku ini tentu saja dianggap tidak normal, bahkan sebagian dari mereka menganggapku aneh. Mungkin karena itulah mereka tidak suka bersahabat denganku, bahkan sebagian ada yang sengaja menjauhiku.

“Hai, di kepalanya ada ular yang ganas.”

“Awas, jangan dekat-dekat dia. Air liurnya beracun.”

“Air liurnya itu, liur ular.”

Itulah kalimat-kalimat yang sering terlontar dari mulut mereka. Bahkan ada beberapa anak bandel sengaja melakukan perundungan padaku. Mereka melakukannya karena ingin memancing agar ular yang ada dalam kepalaku marah, mengamuk, lalu menyakitiku. Jika mereka berhasil melakukannya, mungkin mereka merasa puas, dan puncak dari semua itu mereka akan meninggalkanku terkapar sendirian dengan mulut penuh cairan putih berbusa.

Tapi semoga kejadian serupa tidak terjadi di tempat ini. Oya, ternyata marahnya bapak yang terakhir itu karena dirinya dimutasi. Alasan bapak dimutasi kabarnya bapak sering berbuat ulah, dan  melakukan kesalahan di kantor. Kemarahannya diluapkan di rumah. Aku tidak heran saat mendengar hal itu, bahkan aku menerka kesalahan bapak pasti tidak jauh dari kebiasaannya yang mudah marah tanpa sebab. Oleh pihak kantor dipilihlah Lampung, sebagai tempat yang dipercaya bisa menjadi pembelajaran bapak.

Baca juga:  Alamat Email Media yang Menerima Naskah Cerpen/Puisi/Esai

Pindahan ini bagiku bukan sesuatu yang merisaukan, alih-alih  aku malah bisa lepas dari mereka yang selama ini mengerjaiku. Senada dengan yang kukatakan sebelumnya, di sini justru ada sebuah harapan. Meski tentu saja aku tidak bisa menyembunyikan keadaanku, tapi semoga di tempat baru ini aku tidak menemui orang yang jahat kepadaku. Sehingga ular di kepalaku tidak sampai menampakkan diri, dan mereka tidak akan tahu keadaanku sebenarnya. Tapi harapan itu memang belum pasti kesampaian, bahkan bisa saja justru orang-orang di sini lebih jahat dari sebelumnya. Dan jika hal itu benar, itulah yang sesungguhnya bisa membuatku sangat risau.  

Meski semua belum jelas, setidaknya kini aku bisa menyicil lega karena cerita ibu. Begitu ibu mengetahui tempat di mana bapak dimutasi, tak lama kemudian ibu bercerita kepadaku bahwa daerah ini adalah tempat pertama kali bapak ditugaskan. Di desa ini bapak dan ibu pernah tinggal kira-kira dua tahun lamanya, sebelum pindah tugas ke daerah lain. Kata ibu, sosial kemasyarakatan desa ini berjalan baik, bahkan katanya pula, ada beberapa falsafah hidup bermasyarakat  yang masih dipelihara sampai sekarang.

“Itu semacam prinsip penghormatan antar warga dan pribadi. Semoga tempat ini baik untuk kita, terlebih untukmu,” sambung ibu.

Sepertinya apa yang dikatakan ibu benar, masyarakat di sini memang sangat menghormati sesama. Paling tidak itulah yang kurasakan setelah beberapa waktu kami tinggal dan masuk di sekolah lanjutas atas di daerah ini. Dari guru sosiologi aku juga mendapat penjelasan lebih lanjut mengenai falsafah hidup bermasyarakat yang ibu ceritakan itu.

Dan yang paling membuatku senang, di tempat ini, ular yang bersarang dalam kepalaku tidak pernah lagi berbuat ulah. Bahkan aku merasa, ular itu sekarang menjadi temanku, membantu segala kegiatanku. Aku menjadi tidak mudah lelah, ketahananku melebihi ketahanan fisik anak-anak lainnya, bahkan aku bisa mengerjakan sesuatu dengan tingkat konsentrasi tinggi dalam rentang waktu yang lama. Dari situ aku jadi berpikir, ternyata ular di kepalaku bisa menjadi jahat hingga membuatku tersiksa, tapi jika situasinya mendukung, akan menjadi jinak hingga bisa memberiku energi positif.

Tapi aku meyakini, di mana pun tempatnya kesempurnan adalah kemustahilan. Oleh karenanya aku tetap tidak boleh lepas kendali. Keyakinanku, jika suatu saat ular di kepalaku sampai berbuat ulah, dan orang-orang di sini mengetahuinya, itulah tantanganku sesungguhnya. Dan apa yang kupikirkan itu terjadi. Bapak murka, aku dan ibu dihajar. Ular yang bersarang dalam kepalaku berulah. Mulai detik itu semua warga desa mengetahuinya. Meski sebagian mereka tetap baik kepadaku, tapi ada beberapa langsung berubah, enggan lagi dekat-dekat denganku. Bahkan di antara mereka ada yang berperangai sama dengan anak bandel di desaku dulu. Mereka suka melakukan perundungan, bedanya selama ini tidak pernah menjadi masalah besar, terlebih setelah aku punya teman yang sangat baik padaku. Dia bernama Liwa.

Baca juga:  Daun-daun Terakhir yang Jatuh Menimpa Tubuh Kita

Saat sebelum dan sesudah Liwa mengetahui keanehanku, sikapnya tidak berubah, tetap baik padaku. Liwa termasuk anak pandai di sekolah kami. Padahal dia punya satu kekurangan, yaitu tidak bisa bicara. Dia bisu total, tetapi pendengarannya berfungsi baik. Jika dia ingin berbicara lewat tulisan. Meskipun dia bisu tapi mampu mengikuti pelajaran di SMA biasa. Bukan itu saja, bahkan dia termasuk anak yang disegani, buktinya jika Liwa ada di dekatku, siapa pun tak ada yang berani mengerjaiku. Jujur, dengan adanya Liwa, aku merasa aman. Tapi hal seperti itu tidak kudapatkan di rumah. Terlebih adanya kenyataan saat bapak bekerja di kantor yang baru, bukannya menjadi tertib dan menyadari kesalahannya selama ini, tapi justru kebrengsekkannya semakin bertambah parah. Hingga hal itu berefek pada keadaanku dan keadaan ibu yang semakin hari semakin menderita karenanya.

Demikian juga ular yang bersarang dalam kepalaku menjadi sering berulah lagi. Gerakan-gerakannya semakin brutal, dan hal itu seiring dengan semakin cepatnya waktu yang diperlukan ular itu untuk membuatku terkapar. Karena seringnya aku sekarat, membuat fisikku melemah dan wajahku selalu terlihat kusut. Tentu saja keadaanku itu membuat Liwa heran. Mungkin karena itu, pada suatu kesempatan Liwa mengajakku pergi ke tempat yang katanya spesial.

Semoga di sana, ular itu bisa tenang dan tidak menyakitimu lagi. Dia menulis di secarik kertas.

“Ada apa di sana?” tanyaku.

Sebuah air terjun yang indah. Saat kamu terkena tempias air terjun itu, kamu akan merasakan sejuk dan nyaman. Tulisannya kubaca.

Setelah mempersiapkan diri, kami benar-benar pergi ingin melihat air terjun itu. Rupanya benar, selama menikmati keindahan air terjun itu, tak ada tanda-tanda ular yang bersarang dalam kepalaku akan berulah. Aku senang, demikian juga Liwa. Aku bisa melihat dari sorot matanya waktu memandangku. Aku merasa, diam-diam dia menjadi sering memperhatikan aku. Sesekali pandang mata kami bertautan. Ada desir halus di hatiku saat kami saling bersitatap. Hari itu aku bergembira, karena bisa menjalani seharian tanpa ada rasa sakit sedikit pun di kepalaku. Selain itu aku merasa, kali ini ada kebahagiaan yang lain. Mungkinkah karena aku bisa melewati hari berdua saja dengan Liwa? Entahlah, tapi yang pasti aku merasa sangat bahagia.

Baca juga:  Tetes yang Berharga

Tapi sayang, kebahagiaan itu hilang begitu saja ketika aku tiba ke rumah. Saat kami memasuki halaman rumah, bapak sedang berada di beranda. Mengetahui kami datang, bapak langsung berdiri menyambut. Aku langsung disuruh masuk, dan dari dalam rumah aku melihat mereka lewat jendela nako. Dari sana aku tahu saat Liwa diusir bapak dengan perkataan yang sungguh menyedihkan.

“Hai bisu, cepat pergi dari sini!” Usai berkata begitu, bapak masuk rumah. Aku tanggap keadaan, dan langsung menuju kamar. Belum sampai masuk kamar, bapak telah lebih dulu memanggilku, sembari melontarkan sumpah serapahnya. Bukan hanya mulutnya yang bicara, beberapa lama kemudian kaki dan tangannya beraksi. Tamparan dan tendangan mendarat di tubuhku. Pada saat itu aku merasa ular yang bersarang dalam kepalaku juga ikut beraksi, hingga tak lama kemudian, tubuhku kejang-kejang lalu terkapar dengan mulut penuh cairan putih berbusa. Pada saat itu aku masih sempat mendengar ada suara aneh di luar rumah. Dalam sekaratku, aku masih bisa melihat, bapak keluar rumah.

Esok harinya Liwa telah menunggu kedatanganku di halaman sekolah. Begitu aku sampai di pintu gerbang, dia langsung mendekatiku dan memegang tanganku. Dia mengajakku pergi, dan entah kenapa aku juga langsung menurutinya. Bukan masalah dia bisu, tapi selama perjalanan menuju tempat itu, suasana hening menguasai. Bahkan setelah sampai di sana pun, meski kami duduk berdampingan,  hening masih juga menyelimuti kami.

Tiba-tiba Liwa menyodorkan sebuah kertas padaku. Bolehkah aku membantumu agar ular di kepalamu tidak menyakitimu lagi?  

Aku menatapnya, lalu kami saling beradu pandang cukup lama. “Memangnya kamu bisa?’ tanyaku balik.

Melalui tulisannya dia menjawab, Jika kamu mengizinkan, aku akan melakukan.

“Kamu baik sekali, Liwa. Tentu saja boleh. Aku sangat senang jika itu bisa terjadi.”

***

Hari ini Liwa tidak masuk sekolah. Banyak teman yang menggodaku. Bedanya, kali ini bukan menggoda tentang ular yang bersarang dalam kepalaku, tapi mengoda perihal Liwa yang tidak ada di sampingku. Ah, mereka pasti sudah menyangka kami pacaran. Tapi aku sendiri tidak ingin memungkirinya, memang senyatanya ketidakhadiran Liwa telah membuatku cemas. Hari ini terlewat dengan perasaan tidak menentu. Aku ingin segera pulang, menyendiri di kamar dan memikirkan Liwa dengan saksama.

Saat aku sampai dekat rumah, aku melihat banyak orang berkumpul. Ada bendera duka di depan rumah.  Aku berlari, sampai di rumah aku mendapati bapak telah terbujur kaku, terbaring di dalam peti. Aku memperhatikan jenazah bapak. Pada saat itu aku merasa ada yang bergerak dalam kepalaku. Tak lama kemudian, aku melihat ada ular yang keluar dari kepalaku. Menjalar lewat leher, lalu tangan, dan akhirnya masuk ke peti jenazah, bersembunyi di sana.

***

Yuditeha, menulis puisi dan cerita. Kumcer terbarunya Cara Jitu Menjadi Munafik (Stiletto, 2018). Novel Tjap (Basabasi, 2018). Novel Tiga Langkah Mati (Penerbit Buku Kompas, 2019). Novelnya Imaji Biru memenangi juara pertama Lomba Novel Jejak Publisher (2018). Aktif di Sastra Alit Surakarta dan Pendiri Kamar Kata Karanganyar.

Ingin cerpenmu dimuat di Warung Khayalan?

Baca syarat lengkapnya di sini

Share This:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *