Tetes yang Berharga

Oleh : Salmah Nurhaliza

“Diooon!” Aku berteriak histeris. Hampir saja peganganku lepas karena refleks ingin meraih tubuh Dion yang terjun bebas ke tanah. Helmet berwarna kuning yang digunakan Dion terlepas dan terpental. Serbuk MgCO[1] berserakan di tanah dan sebagian mengotori bajunya. Di bawah, kulihat teman-temanku langsung mengerubungi Dion. Aku bergegas turun.

“Dion ….”

Langkahku terhenti saat melihat kepala Dion sudah bersimbah darah, sementara cowok tinggi berkulit cokelat itu sudah tak sadarkan diri. Aku mundur perlahan, lalu terduduk lemas beberapa meter di belakang kerumunan.

Beberapa orang anggota PMR datang membawa tandu. Kebetulan hari ini di sekolahku sedang diadakan kegiatan donor darah yang digalakkan oleh PMI. Tubuh Dion diangkat dan langsung ditandu menuju mobil ambulans yang berada di parkiran depan.

Semua kejadian itu seolah bergerak lambat di mataku. Para siswa yang berlalu lalang—sedikit berlari, perbincangan teman-temanku yang terdengar samar, juga bau anyir  darah segar yang membuat mual.

Sinar matahari yang begitu terik sama sekali tak membuatku bangkit dan beranjak dari posisi ini. Aku bergeming. Lama. Tubuhku semakin lemas dan mulai terasa menggigil. Pandangan mulai kabur. Hampir saja aku terkulai ke tanah jika tidak ada seseorang yang menangkap dari belakang.

***

Sebuah gelas bening berisi teh manis hangat tergenggam erat di kesepuluh jemariku. Konsentrasi ini tidak seratus persen. Reta yang tadi menopang saat aku ambruk dan memapahku berjalan ke ruang UKS, duduk menemani di atas tempat tidur.

“Gimana perasaan kamu, Win, sudah lebih baik?” tanya Reta sembari mengipaskan sebuah buku di dekat wajahku yang dia bilang pucat.

Aku hanya mengangguk sebagai jawaban. Rasanya terlalu lemah untuk menjawab. Perasaan syok, takut, sekaligus rasa bersalah berbaur menjadi satu. Tubuhku masih sedikit bergetar. Kalau saja tadi aku tidak menantang Dion untuk memanjat tebing buatan yang dimiliki sekolah sebagai fasilitas untuk ekskul Pecinta Alam, mungkin peristiwa ini tak akan terjadi. Bodohnya, Dion mengiyakan saja tantanganku. Mungkin dia gengsi jika menolak.

“Sesuai kesepakatan, kalau kamu kalah di taruhan bola semalam, kamu harus ikutin apa yang aku mau,” ujarku pongah.

“Oke. Kamu mau aku ngelakuin apa?” Dion malah menantang balik, tak kalah pongah.

Aku menunjuk sebuah papan tinggi berbatu tak jauh dari posisiku yang sedang berdiri di tepi lapangan basket. “Wall Climbing! Berani?” Alis sebelah kiriku terangkat.

“Siapa takut?!” Dion melipat kedua tangan di depan dada dan mengangkat dagunya.

Aksi Wall Climbing itu pun dimulai, disaksikan teman-teman sesama anggota ekskul Pecinta Alam dan beberapa siswa lain. Awalnya semua berjalan lancar. Kami saling susul menyusul untuk mendaki lebih tinggi dan mencapai puncak lebih dulu. Namun, begitu hampir mencapai puncak, tiba-tiba pegangan Dion telepas dan dia terlempar ke bawah. Sepertinya dia pun kurang cermat memasang harnest[2] pada talinya.  

Aku tahu betul, kemampuan Dion dalam Walll Climbing masih di bawahku. Aku sengaja ingin mempermalukannya di depan teman-teman. Nyatanya, yang terjadi justru di luar dugaan. Keisengan dan sifat congkakku menyebabkan risiko yang sangat fatal.

“Ini semua salahku. Kalau sampai terjadi sesuatu sama Dion, aku adalah orang yang paling pantas untuk disalahkan.” Bibirku bergetar saat mengucapkan itu. Mataku menatap kosong ke depan. Aku makin kuat mencengkeram gelas dalam genggaman.

Baca juga:  Daun-daun Terakhir yang Jatuh Menimpa Tubuh Kita

“Win, ini musibah. Nggak ada yang tahu.”

“Tapi kalau aku nggak—“  

“Dion butuh banyak darah. Stok darah di PMI nggak cukup, makanya kita harus minta teman-teman yang golongan darahnya sama agar mau menjadi pendonor.”

Percakapan dua orang anggota PMR yang melintas di depan kami membuatku  menghentikan kalimat.

“Tapi AB negatif itu golongan darah yang langka, Fik. Nggak gampang mendapatkannya.”

Tenggorokanku tercekat. Susah payah aku menelan ludah. Aku dapat menangkap dari sudut mata, Reta menatap intens.

“Win, darah kamu kan AB negatif. Donorin buat Dion aja, kasian Dion.”

Aku menggelang cepat. “Nggak, Ta. Nggak mungkin.”

“Winda, ini darurat. Kamu nggak mau Dion kenapa-kenapa, ‘kan?”

“I-iya …, tapi ….” Aku terbata. “Tapi itu nggak mungkin ….”

“Kenapa nggak mungkin?” Sebuah suara hadir di antara kami.

“Fikri?!”

Fikri, salah satu dari dua orang anggota PMR yang tadi melintas. Aku pernah satu kelas dengannya saat kelas sepuluh.  

“Kamu sehat, ‘kan?”

Aku mengangguk.

“Nggak punya riwayat medis yang buruk, ‘kan?”

Aku menggeleng.

“Setetes darah kamu itu bisa sangat berguna untuk hidup seseorang.” Fikri berdiri di hadapanku. Dia terlihat sangat gagah dengan seragam khas anggota PMR sekolah kami: seragam serba putih dengan sebuah kain berwarna merah yang membelit lehernya membentuk sudut segitiga di bagian belakang dan terdapat lambang PMI di sana.

“Iya, aku ngerti. Tapi … aku phobia darah.”

***

Ditemani Reta, Fikri membawaku ke aula sekolah yang digunakan untuk tempat berlangsungnya kegiatan donor darah. Baru sampai beberapa meter di depan pintu saja aku langsung gemetar, bagaimana kalau sudah masuk dan mereka mengambil darahku? Aku tidak bisa membayangkannya. Refleks aku menghentikan langkah.

“Nggak, Fik, aku takut.”

“Nggak apa-apa, Win, percaya, deh.” Fikri berusaha meyakinkanku. “Aku temenin sampai selesai.”

“Demi Dion, Win.” Reta menimpali. Ucapannya membuat rasa bersalahku muncul ke permukaan.

Setelah cukup lama berpikir, akhirnya aku mengangguk lemah. Aku mengikuti Fikri masuk ke dalam. Tentu saja Reta ikut menemani. Mataku menyapu seluruh ruangan. Ada ranjang-ranjang yang sedang dihuni oleh beberapa anak yang darahnya sedang diambil. Di sebelah kiri dekat pintu masuk ada meja pendaftaran. Fikri mengajakku ke sana.

Sambil menunggu giliran, kami duduk di kursi yang berderet dekat meja pendaftaran. Ada dua orang kakak kelas—keduanya perempuan—yang sudah duduk di sana saat kami datang. Aku menguatkan diri. Demi Dion! Ya, demi Dion. Demi menebus rasa bersalahku padanya.

Seorang petugas melintas di depan kami. Aku bergidik melihat kantong darah yang dibawa laki-laki muda itu.

“Winda Elisa, sebelas IPS tiga!”

DEG!

Namaku dipangil. Rasanya ingin melarikan diri saja dari tempat ini. Aku lebih baik disuruh memanjat tebing Likunggavali di Desa Marantale, Sulawesi Tengah sana, daripada berbaring di ranjang itu dan menyaksikan sendiri darahku diambil. Walaupun aku belum berhasil menaklukan tebing di Kecamatan Siniu, Kabupaten Parigi Moutong tersebut, tapi paling tidak salah satu wisata alam menakjubkan yang dimiliki Indonesia itu akan lebih menyenangkan dibanding berada di tempat ini. Percikan air terjun alami saat menaiki celah demi celah tebing Likunggavali akan lebih bersahabat denganku daripada jarum suntik dan kantong penampung darah itu.

Baca juga:  Ular yang Bersarang dalam Kepalaku

“Winda, ayo sana!” Reta menyenggol lenganku, membuatku terlonjak.

“Ayo, aku temani.” Fikri berdiri dan mejulurkan tangan kanannya.

Aku memandangi telapak tangan Fikri yang terbuka di depan wajahku. Ragu. Tapi akhirnya aku meraih dan menuruti ajakannya. Ia menggandengku menuju ranjang yang sekarang sudah kosong dan ada seorang petugas di sebelahnya.

Aneh. Kenapa aku jadi gugup begini? Bukan. Bukan gugup karena hal yang sebentar lagi akan aku lakukan, tapi karena Fikri menggenggam erat jemariku. Genggaman yang terasa hangat. Kulirik cowok di sebelahku itu sesaat. Wajahnya tenang. Langkahnya pun sangat rileks, kontras dengan jantungku yang mulai berdegup cepat. Ah, ayolah Winda … jangan ngaco!

Sebelum darahku diambil, aku diminta untuk melakukan serangkaian tes sederhana: menimbang berat badan, pemeriksaan kadar HB, pemeriksaan golongan darah, tekanan darah dan nadi, dan beberapa pemeriksaan fisik lain termasuk sedikit tanya jawab tentang riwayat medis. Fikri duduk di sebelahku sambil mengamati dengan saksama semua yang dilakukan petugas PMI itu—mungkin ingin mempelajari.

Setelah dinyatakan memenuhi syarat, petugas berkemeja merah-putih bertuliskan Unit Donor Darah PMI Kota Tangerang di bagian belakangnya lengkap dengan lambang PMI itu memintaku  berbaring.

“Oke. Sudah siap, ya?” tanya si petugas PMI berjilbab itu.  

Aku mengangguk ragu. Fikri berpindah ke sisi ranjang yang berseberangan dengan tempatnya semula. Tepat di sebelah kiriku. Cowok itu tiba-tiba bercerita tentang sesuatu yang sama sekali tidak kumengerti. Aku hanya fokus memandangi wajahnya yang bersih dengan alis yang hampir menyatu. Saat bercerita, bibirnya yang kemerahan alami sebentar-sebentar tersenyum, sebentar-sebentar cemberut. Lucu sekali ekspresinya. Sikapnya membuat rasa tegangku sedikit berkurang.

Saat aku merasakan jarum suntik menyentuh kulit lengan kananku, aku hanya bisa memejamkan mata sambil menahan napas. Kurasakan ada yang menggenggam jemari kiriku. Tak berapa lama, aku kembali mendengar suara petugas cantik itu.

“Rileks saja, ya. Jangan tegang.”

Aku tak berani menoleh, masih sibuk memejamkan mata. Samar-samar kudengar Fikri menyenandungkan sebuah lagu. Aku tahu lagu itu. Lagu milik Almarhum Chrisye, Damai Bersama-Mu. Dalam hati, aku ikut menyanyikannya di bagian refrain.

Jangan biarkan damai ini pergi  

Jangan biarkan semuanya berlalu

Hanya pada-Mu, Tuhan, tempatku berteduh

Dari semua kepalsuan dunia

***

“Kenapa kamu memilih jadi anggota PMR dan relawan PMI? Biasanya cowok-cowok lain akan lebih memilih ekskul yang telihat keren: basket, sepak bola, bela diri?” tanyaku penasaran.

Setelah proses donor darah yang berlangsung hampir satu jam saat aku menginjakkan kaki di aula, Fikri menemaniku menghabiskan roti dan susu yang diberikan petugas. Lalu dia menawarkan diri untuk mengantar pulang—Reta sudah pulang lebih dulu saat aku selesai melakukan donor. Sekarang kami sedang duduk berhadapan di teras depan rumahku.

“Karena aku bukan mereka,” jawabnya datar.

Entah mengapa aku merasa tertarik pada jawaban singkatnya barusan. Aku sedikit mencondongkan diri ke arahnya, menaikkan alis tanda meminta penjelasan lebih jauh.  Ternyata Fikri memahami bahasa tubuh itu.

Fikri menarik napas dalam, lalu mengembuskannya sekaligus. “Aku punya masa lalu yang pahit, berhubungan dengan darah. Tentang kakakku.”

Baca juga:  Alamat Email Media yang Menerima Naskah Cerpen/Puisi/Esai

Ada pedih yang begitu kentara dari mata Fikri. Aku dapat melihatnya. Kutegakkan posisi duduk. Aku memandangnya lekat, bersiap mendengarkan ceritanya lebih saksama. Fikri mengubah posisi duduk, menghindari tatapanku. Kini aku berhadapan dengan bahu sebelah kanannya.

“Enam tahun lalu, aku dan keluarga—ayah, ibu dan kakakku—baru pulang liburan. Mobil yang kami tumpangi kecelakaan. Jangan tanya seperti apa kejadiannya. Aku nggak mau menceritakan kejadian mengerikan itu. Yang pasti, Kak Irma—kakakku yang baru berusia 15 tahun, kehilangan banyak darah.”

Fikri mengentikan cerita sesaat. Matanya menerawang.

“Stok darah B di rumah sakit terbatas, sedangkan untuk memindahkan Kak Irma ke rumah sakit lain sangat nggak mungkin, kondisinya terlalu lemah. Aku belum cukup umur. Sedangkan kondisi ayah yang terluka nggak memungkinkan untuk mendonorkan darah. Pihak rumah sakit sudah coba cari di bank darah, tapi golongan darah B di sana juga habis. Keluarga kami bisa dibilang berkecukupan. Dan ayahku bersedia membayar berapa pun bagi siapa saja yang mau menyumbangkan darahnya untuk Kak Irma. Namun, kita sama-sama tahu, uang sama sekali tidak bisa menjamin hidup-mati seseorang. Akhirnya setelah 3 jam kritis kekurangan darah, Kak Irma meninggal dunia. Aku menyaksikan sendiri kepergiannya.”

Kali ini mata Fikri mulai berkaca. Itu pasti ekspresi dari kesedihan yang dalam, tapi sekuat tenaga ditahan. Tak tega melihatnya seperti itu, aku memberanikan diri meraih dan menggenggam jemarinya, hanya ingin berusaha memberi sedikit ketenangan.

 “Aku turut berduka ya, Fik. Kamu yang kuat. Mungkin tempat terbaik buat kakak kamu adalah di sana.”

Fikri menoleh seketika, membuatku tersentak. “Terima kasih, Win.” Ia memaksakan segaris senyum sambil balik menggenggam tanganku lebih erat. “Karena itulah, aku bertekad ingin menjadi orang yang berguna di bidang medis. Aku ingin membantu orang sebisaku, dengan ilmu dan pengalaman yang aku punya. Ya, langkah awalnya dengan menjadi anggota PMR dan relawan PMI.”

Aku terharu mendengar penuturannya. Rasanya ingin ikut menangis. Namun, melihat kekuatan di mata Fikri yang tadi begitu sendu, aku tak tega kalau harus meneteskan air mata.

“Oh ya, kenapa tadi kamu nyanyiin lagu itu?” tanyaku begitu aku mengingat saat dia menyanyikan lagu sambil menemaniku melakukan donor darah.

Fikri terlihat berpikir sejenak. “Oh … itu. Lagu itu adalah lagu kesukaan Kak Irma.

***

Dret ….

Suara derit pintu mengiringi langkahku dan Fikri memasuki kamar perawatan Dion. Setelah tiga hari dirawat di ICU, hari ini Dion dipindahkan ke ruang rawat inap. Aku bersyukur, kondisi Dion mulai membaik.

“Hai, semua,” sapaku pada beberapa orang teman yang ternyata sudah lebih dulu datang.

“Ini, nih, biang keroknya.” Roby melirik tajam.

Aku langsung mengarahkan pandangan pada Dion yang terbaring lemah sambil tersenyum mendengar sindiran Roby. “Dion, maafin aku, ya. Aku benar-benar menyesal. Aku nggak tahu kalau semuanya akan jadi kayak gini.”

Dion masih tersenyum, balik menatapku lekat. “Nggak apa-apa, Win, ini pengalaman. Kalau belum ced

era, berarti belum jago.” Ucapan itu diselingi tawa. “Aku justru mau ngucapin terima kasih, kamu udah mau mendonorkan darah buat aku. Padahal kita semua tahu, kamu phobia darah.”

Ah … lega rasanya mengetahui Dion tidak marah karena ulahku. Aku melirik Fikri yang berdiri di sebelah. Dia tampak ganteng dengan setelan kemeja dan celana jin serba abu.

Pintu kembali berderit. Seorang dokter masuk.

“Permisi, Mas Dionnya mau diperiksa dulu, ya,” ujar sang dokter ramah.

Aku dan teman-teman lain mengerti. Kami serempak balik badan hendak meninggalkan ruangan itu. Belum sempat melangkah, seorang perawat cantik masuk dengan tampang cemas.

“Permisi. Dokter Karin, pasien di kamar Anyelir 304 mengalami pendarahan. Stok darah rumah sakit kita kosong. Di bank darah pun tidak ada. Sepertinya harus mencari pendonor dari kerabatnya.” Si perawat berujar panik.

“Golongan darahnya apa?”

“AB negatif.”

Entah kenapa, teman-temanku begitu kompak mengarahkan pandangannya padaku. Mereka seolah mengatakan, ‘Win, saatnya kamu beraksi lagi’.

Aku tahu, jarak  minimal seseorang melakukan donor darah adalah delapan minggu. Namun, melihat mata mereka yang tajam, aku serasa tercekik. Napasku tiba-tiba sesak dan pandangan mulai kabur. Lalu … semuanya menjadi gelap. ***


[1] Magnesium Carbonat

[2] Alat pengait

Ingin cerpenmu dimuat di Warung Khayalan?
Baca syarat lengkapnya di sini

Share This:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *