Review Novel Kafe Serabi

Blurb

Tubuh bongsor membuat Anggun menjadi bahan bully di kampus. Jika bukan karena Tata, sugar glider peliharaannya, serta Anton dan Mila, dua sahabatnya, rasanya ingin berhenti kuliah saja.

Perkara cinta, jangan ditanya, sudah di ambang putus asa dengan kejombloannya. Dirinya sering bertanya-tanya: Apa mungkin aku ditakdirkan terlahir sebagai jomblowati?

Anggun menemukan kafe serabi dari Ken. Apakah cowok itu dikirim Tuhan untuknya? Di sana, Anggun mendapat jawabannya.

***

Setelah sekian lama, akhirnya saya bisa posting sesuatu di blog ini. Sebuah review dari novel yang baru beberapa hari lalu selesai saya baca. Kafe Serabi, novel perdana dari seorang teman yang sudah cukup jauh meninggalkan saya di dunia literasi. Kafe Serabi adalah novel perdananya, meskipun ini novel perdananya, cerpennya sudah banyak bertebaran di beragam media. Dia adalah Ade Ubaidil, pemuda asli Cilegon.

Oke, langsung saja membahas novel ini. Kafe Serabi, berkisah tentang persahabatan dan cinta yang hadir di Kafe Serabi. Sebagai tokoh utama adalah seorang cewek gendut yang sedang berjuang untuk sesegera mungkin lulus kuliah. Bersama dua sahabatnya, yang satunya cowok berkepala plontos bernama Anton, dan satunya lagi cewek berambut kribo bernama Mila. Dalam perjalanan meraih gelar sarjana, banyak kenangan yang terjadi, baik pahit, manis, asam, dan sebagainya. Ada juga kisah percintaannya dengan laki-laki ganteng nan tajir yang ternyata menyimpan sebuah rahasia besar. Semua terangkum dalam kafe serabi, sebuah kafe yang menyimpan banyak kenangan.

Yah, novel ini mengajarkan kita tentang arti persahabatan yang sesungguhnya. Saya mengutip salah satu pernyataan Anggun tentang makna dari sahabat:

“Bagiku, sahabat sejatinya adalah kata ganti dari orang yang memiliki pendengaran lebih, penglihatan lebih, dan kepekaan hati yang lebih dibandingkan siapa pun.” (Halaman 135)

Baca juga:  Everybody’s Man: Cerita Dari Setiap Wanita

Jujur, saya merinding ketika membaca bagian ini. Ungkapan yang sangat tepat untuk menggambarkan seorang sahabat. Mereka adalah orang yang lebih peka dari siapa pun di dunia ini. Lebih peka untuk saling mengerti satu sama lain. Bukan hanya sekadar sahabat di bibir, kemudian lupa bagaimana prakteknya. Ada yang seperti itu? Banyaaaaaak.

Menurut saya, novel ini sangat ringan dan bisa ditamatkan dengan sekali baca. Diksi yang digunakan sangat nyaman dibaca untuk semua usia, tak ada kata yang berat atau sulit dimengerti. Bahasanya mengalir dan sesekali saya bisa tertawa geli membayangkan kejadian-kajadian lucu dalam novel itu. Namun, sebenarnya ada beberapa kejanggalan yang saya kurang nyaman membacanya.

Halaman 43-46 seperti promosi. Bagi saya, pada halaman ini benar-benar seperti berpromosi sebuah restoran. Ya, saya paham kalau tujuannya untuk mendeskripsikan kafe serabi yang merupakan judul novel tersebut sedetail mungkin. Tapi kalau keunggulannya saja yang dijabarkan rasanya seperti berpromosi. Mungkin ada diselingi kejelekannya agar sedikit lebih ‘manusiawi’.

Selanjutnya, perubahan sudut pandang secara acak di setiap bab yang berbeda terasa kurang nyaman dibaca. Saya mengerti ketika pertama membaca perubahan sudut pandang itu, terasa kalau itu memang sudut pandang seseorang yang berbeda, tapi gimana ya, seperti ada yang ngeganjel. Ada pov Anton, Ken, dan yang mendekati bab terakhir itu pakai pov III.

Terus, saya merasa kurang kuat untuk penokohannya. Mungkin hanya Anggun sebagai tokoh utama saja yang benar-benar terasa feel-nya. Tokoh lain seperti ayah dan ibu Anggun, Andin, Ken, Reza dan Nia terasa kurang kuat. Bahkan Nia yang adalah tokoh antagonis, salah satu tokoh penting terciptanya konflik dalam novel ini. Ada Mila dan Anton juga yang sebenarnya penggambarannya sudah cukup baik, tapi tetap saja saya tidak bisa membayangkan bentuk fisiknya seperti membayangkan Anggun secara nyata.

Baca juga:  Review Novel Berikutnya Kau yang Mati

Gambar Novel Kafe Serabi

Oh iya, selain itu, saya merasa peran dari Kafe Serabi kurang kuat dalam novel ini. Judulnya diganti dengan yang lain mungkin tidak masalah. Apalagi, dalam novel ini kafe serabi tidak terlalu banyak ikut campur. Yah, yang saya rasa seperti itu. Meskipun banyak konflik dan kejadian penting yang terjadi di sana.

Yah, secara pribadi saya kurang puas juga di endingnya. Ada sesuatu yang seharusnya bisa digarap lebih baik untuk meninggalkan kesan kuat di benak pembaca. Oleh karena itu, saya memutuskan untuk memberikan 3 bintang dari total 5 bintang untuk novel Kafe Serabi.

Uh. Itu dia tadi review singkat saya untuk novel perdanamu, De. Semoga di novel kedua dan seterusnya bisa lebih keren lagi. Dan, tunggu novel saya!

Share This:

Lalu Razieb Ariaharfi

Asli Lombok dan suka makanan pedas. Bisa dihubungi lewat twitter @lalurazieb_azie, email laluazie@gmail.com, atau mungkin bisa berkunjung ke blog pribadinya di www.pena-azie.id

2 thoughts on “Review Novel Kafe Serabi

  • December 1, 2015 at 9:32 am
    Permalink

    Detail sekali, banyak poin yg bisa saya ambil dan saya menganggukinya. Terima kasih untuk saran dan masukannya, Zi. Mudah2an di karya berikutnya bisa lebih baik lagi. But, anw, gue bener2 nunggu novel solomu, kawan! 🙂

    Reply
  • December 1, 2016 at 8:49 am
    Permalink

    novel yg luar biasa….. hehehe…

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *