Review Buku Asma Nadia – Waswas Soal Pernikahan? Kamu Wajib Baca Ini! Sakinah Bersamamu

Your ads will be inserted here by

Easy Plugin for AdSense.

Please go to the plugin admin page to
Paste your ad code OR
Suppress this ad slot.

Sakinah Bersamamu, Belajar Bijak Berumah Tangga Melalui Cerita

Judul        : Sakinah Bersamamu

Penulis     : Asma Nadia

Penerbit   : Asma Nadia Publishing House

Halaman  : xii + 344 hlm; 20.5 cm

Tahun       : Desember 2011, cetakan ke-10

ISBN         : 978-602-96725-5-8

 

Sinopsis:

Tak ada yang sempurna di kolong langit. Tidak dia, Bang Zaqi, dan pernikahan mereka. sebab kesempurnaan hanya boleh dilekatkan pada nama-Nya semata.

Riri bukan tidak menyadari hal ini. Tetapi salahkah jika perempuan itu menyimpan harapan bahwa mereka akan memiliki cinta yang sempurna? Ia ingin cinta, hari-hari sakinah, hanya itu yang terbayang saat mengenang perjalanan kasih mereka bayang-bayang kebersamaan yang selalu berkejaran begitu jelas di pelupuk mata, setiap kali memandangi Bang Zaqi yang terlelap. Tapi tak ada cinta yang tak diuji. Lalu haruskah dia menyerah kalah ketika cinta yang selama ini nyaris sempurna, diguncangkan badai? Saat sosok yang tak pernah mengecewakan sanggup menggoreskan luka?

Ini memang bukan kisah cinta sempurna. Tetapi kisah dua anak manusia yang berlajar menyempurnakan cinta. Belajar memberi, menerima dan memperbarui cinta. Hingga mereka menutup mata.

“Kenapa kita menikah, Bang?” tanyaku suatu hari.

Kau menjawab mantap, tanpa sebersitpun keraguan, “Sebab tanpamu taka da pernikahan bagiku.”

Your ads will be inserted here by

Easy Plugin for AdSense.

Please go to the plugin admin page to
Paste your ad code OR
Suppress this ad slot.

***

Membaca tuntas buku satu ini saat awal tahun baru 2013. Sebagai pecinta tulisan pop, aku dibuat haru dengan cerita-cerita di dalamya. Saat itu juga, aku memutuskan untuk mengkoleksi beberapa buku lainnya yang sejenis. Asma Nadia mampu menciptakan alur yang menyeret pembacanya dalam emosi cerita. Tak terhitung, banyak dari pembacanya menangis, tergugah, sampai ada yang benar-benar kembali ke jalan yang benar.

Baca juga:  Review Novel Summer in Seoul Karya Ilana Tan

Seputar ujian dalam rumah tangga adalah konflik utama yang sering diangkat ke permukaan. Bahwa dalam pernikahan tidak akan ada cerita happily ever after seperti dalam dongeng-dongeng yang pernah kita dengar. Berharap selalu sakinah tanpa ujian sangatlah tidak mungkin. Begitu juga dengan kisah seorang wanita bernama Riri. Baginya, perselingkuhan, pengkhianatan, affair… apapun namanya, ternyata jauh lebih menyakitkan dari yang dia kira. (Hal. 316) Kasak-kusuk terdengar jelas bahwa suaminya memiliki hubungan dengan teman sekantor.

Perlahan tapi pasti, Riri merasakan apa yang dinamakan mimpi buruk dalam rumah tangga. Setelah sembilan tahun usia pernikahan mereka badai itu benar-benar datang, Bang Zaqi, suami perempuan itu meminta izin agar diperbolehkan untuk menikah lagi.

Sebagai penutup cerita dalam buku ini, semua perempuan pasti akan tersentuh dengan apa yang dirasakan oleh Riri. Bagaimana hati perempuan bisa menerima kalau cinta suaminya telah atau akan terbagi. Kita, sebagai perempuan tahu, hanya kitalah yang akan menjadi seorang ratu dalam biduk rumah tangga tanpa ada perempuan lain selain ibu. Tak selamanya, dimadu itu akan diterima baik oleh perempuan.

Di pertengahan buku, ada satu cerita yang mengundang banyak argumen dari perempuan. Tentang seorang ibu yang memilih tinggal di rumah atau bekerja. Sebut saja namanya Alia. Dia sudah memiliki tiga anak tiba-tiba saja ingin bekerja. Alasannya karena bosan di rumah, ingin punya aktivitas baru, dan anak-anak mereka sudah besar. Dengan mengantongi pendapat itu, Alia ingin bekerja di luar rumah. Setelah mendapat persetujuan dari keluarganya, Alia memeluk suami dan anak-anaknya. Tak menyangka bahwa keinginannya untuk berutinitas di luar rumah disetujui.

Akhirnya, Alia pun mengajar bahasa Inggris di beberapa bimbingan belajar. Namun, di sinilah perempuan itu tersadar bahwa aktivitas di luar rumah tak selamanya menyenangkan seperti yang dia bayangkan. Apalagi hanya karena dirinya bosan dengan pekerjaan rumah tangga. Setelah dipikir-pikir, seperti dikutip di halaman 181, “tidakkah lelaki itu seharusnya juga berhak punya perasaan yang sama? Terkurung di kantor delapan sampai smebilan jam sehari. Menghadapi wajah-wajah stress pegawai lain. Belum bos yang sering sewenang-wenang, dan kurang menghargai jerih payah pegawainya?”

Baca juga:  Siapa sih yang layak disebut penulis?

Cerita ini ditutup dengan adegan yang sederhana namun begitu menyentuh. Pada halaman 183, terjadi percakapan dari tiga anak Alia. Ibnu, Zahrah dan Fatimah.

“Ibnu: Ugh… ternyata masak susah, yah?”

“Zahra (tertawa): makanya, tahunya jangan cuma makan aja!”

“Fatimah (sendu): Aku kangen masakan Bunda…”

Hening. Tiga kakak beradik saling melebur peluk. Waktu yang terampas, seperti menghiaskan makna lebih pada kata Bunda.

Setelah membaca cerita ini, berbagai pendapat bermunculan. Mungkin banyak dari kalian semua setuju untuk menjadi ibu rumah tangga saja, namun di sisi lain juga akan banyak pendukung untuk menjadi ibu pekerja. Dan selalu saja, Asma Nadia mampu mengantarkan kita pada realita. Setiap pilihan memiliki konsekuensi, baik menjadi bunda bekerja atau bunda di rumah.

Dalam buku Sakinah Bersamamu ini, setiap kisah dituturkan dengan luwes seperti tak ada cela. Disandingkan dengan ulasan opini untuk cerita yang diangkat membuat buku ini nyaman untuk belajar muhasabah. Meski ada kesalahan sedikit eyd seperti ellipsis yang berbeda di beberapa cerita tapi hal ini tidak mengurangi esensi cerita. Jadi kuberi empat bintang untuk buku ini 😀

17 cerita dan 17 pembahasan seputar ujian dalam rumah tangga yang dikemas dalam buku ini semoga bisa menjadi pelajaran untuk kita semua. Buku yang patut dibaca untuk semua orang yang ingin belajar menjadi pasangan lebih baik bagi suami/ istri, juga ayah/bunda untuk anak-anak tercinta. Selamat Membaca!

Your ads will be inserted here by

Easy Plugin for AdSense.

Please go to the plugin admin page to
Paste your ad code OR
Suppress this ad slot.

Share This:

Dini Hidayati

Hanya seorang gadis kecil penyuka buku, jalan-jalan, dan makan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *