PENGUTIL

Oleh: Aris Rahman P. Putra

TIGA orang bocah berkumpul di depan gerbang sebuah perumahan elit. Mereka tengah merembukkan cara untuk menyusup ke dalam perumahan tersebut dan meloloskan diri dari penjagaan satpam perumahan.

“Bagaimana kalau kita masuk pas satpamnya istirahat makan siang?”

“Memangnya jam berapa mereka istirahat?”

Mat, bocah yang berusia paling tua di antara dua bocah yang lain, berjalan mendekati Ndra sambil menepuk bahunya, “Kamu, coba cek di pos, ya, Ndra!”

“Lah, terus kalian berdua ngapain?”

“Kalau udah aman, aku sama Put masuk duluan. Nanti kamu nyusul.”

“Kenapa bukan kamu aja, Mat?”

 “Kamu sekarang berani sama aku toh, Ndra?” kata Mat sambil mencengkeram baju Ndra. “Sudah merasa hebat kamu?”

Ndra gemetar, tak berani melawan. Put, yang berusia sepantar dengan Ndra, berusaha menengahi perkelahian di antara dua rekannya tersebut.

“Sudah, sudah, kamu ngalah aja, Ndra,” kata Put sembari berusaha melepaskan cengkeraman tangan Mat. Ndra cuma bisa pasrah. Melawan Mat tak mungkin dilakukannya, karena terakhir kali dia mencoba duel dengan Mat, dia mesti merelakan tubuhnya nyemplung ke kali setelah mendapat bogeman cukup kuat tepat di pipi sebelah kanannya. 

“Oke, oke.”

Ndra mengendap-ngendap melalui semak-semak di belakang pos satpam lalu mengintip dari jendela pos. Tak ada siapa-siapa. Ndra mengacungkan jempol ke arah Put dan Mat yang memantau dari seberang, lalu memberi mereka isyarat untuk segera masuk. Put dan Mat bergegas menyusup ke dalam perumahan dengan berjalan menunduk melewati celah portal.

“Ndra, habis ini kamu sembunyi di rumah gedong yang itu, ya!” perintah Mat sambil menunjuk sebuah rumah megah yang tampak sepi tak berpenghuni. “Kalau satpamnya sudah ada, kamu buru-buru nyusul kita ke dalam.”

Baca juga:  Tetes yang Berharga

Ndra mengangguk.

Put dan Mat masuk ke dalam perumahan elit. Berjalan-jalan sambil mengamati rumah-rumah megah yang tampak bagai istana bagi mereka.

“Yang ini pasti rumah presiden,” kata Put sambil menunjuk sebuah rumah dengan latar dua pilar krem berukuran besar dengan halaman penuh dengan lampu-lampu antik yang tetap menyala meski sedang siang hari.

“Bukan, blok! Yang itu yang rumah presiden,” bantah Mat sambil menunjuk rumah yang lain—rumah yang bentuknya seperti kastil dalam film-film kartun yang setiap Minggu pagi mereka lihat. “Kalau yang tadi paling cuma rumah gubernur.”

“Kamu kok tahu, Mat?” 

“Itulah keuntungan jadi loper koran!” teriak Mat penuh bangga. “Meski gak sekolah, kamu tetap bisa pintar seperti koko-koko yang sekolah di Petra.”

“Hebat kamu, Mat.”

“Sudah, sudah, fokus dengan tujuan utama kita.”

Dua bocah itu dengan tekun mengamati pagar setiap rumah, berharap menemukan gembok yang terbuka dan masih nyantol di lubang pagar. Sebuah gembok kuningan berukuran sedang, bila mereka jual ke tukang besi, bakal diganjar dua ribu lima ratus rupiah. Sedang yang berukuran besar bisa dihargai sampai lima ribu rupiah. Selain gembok kuningan, harganya tak menentu. Itulah sebabnya mereka hanya fokus dengan gembok jenis kuningan.

“Mat, itu!”

Mat menoleh mengikuti telunjuk Put.

“Sikat, Put!” sambil menampol kepala Put.

Put tak punya pilihan lain selain menuruti yang dikatakan Mat. Dengan langkah yang hati-hati, Put melangkah perlahan menuju pagar berwarna perak sambil celngak-celinguk. Sebuah gembok kuningan bergelantungan di pagar dalam keadaan tidak terkunci.  Put memasukkan lengannya melalui celah kecil di antara teralis pagar dan berusaha menggapai gembok kuningan tersebut. Dapat.

Apesnya, seekor anjing penjaga rumah tersebut langsung bereaksi setelah mendengar bunyi klontang-klontang yang ditimbulkan dari benturan lengan Put dan pagar. Anjing tersebut dengan cekatan berlari menerjang tangan Put dan menggigitnya tanpa ampun. Put melengking kesakitan.

Baca juga:  JELA

Mat kebingungan. Dia ingin menolong rekannya tersebut, tapi tak tahu mesti berbuat apa. Tak lama berselang, sebuah mobil sedan hitam mengkilat berhenti. Seorang pria bersetelan kemeja rapi keluar dari mobil tersebut.

“Owi, lepas!” perintah pria itu kepada anjing penjaganya. Anjing tersebut manut dan melepaskan mangsanya. Put mengembuskan napas lalu merebahkan diri di depan pagar. Pria itu lalu mendekati Mat. Tanpa banyak bicara, dengan mengenakan sepatu vantovel, pria tersebut melayangkan tendangan ke arah perut Mat. Mat berteriak kesakitan dan berguling-guling di jalanan berpaving. Si pria masih belum puas. Dia masih terus menendangi Mat yang sudah tergeletak tak berdaya.

Mendengar suara gaduh, seorang bocah perempuan keluar dari kamarnya menuju balkon demi mencari tahu asal dari kegaduhan tersebut.   Sebuah mobil patroli satpam kemudian datang menyusul dengan membawa Ndra yang mukanya penuh lebam dan babak belur.

Dua orang satpam turun dari mobil dan menghajar kembali Put dan Mat menggunakan pentungannya.

Si bocah perempuan masih berdiri di atas balkon, menyaksikan dua bocah yang sedang dihajar satpam … dengan tatapan mata yang kosong. (*)

-buat Kore-eda

Aris Rahman P. Putra, lahir di Sidoarjo, 12 Juli 1995. Alumni Universitas Airlangga Jurusan Antropologi. Kumpulan cerpennya yang berjudul Riwayat Hidup Sebuah Pistol di Kawasan Mulholland Drive telah diterbitkan oleh Penerbit Basabasi.

Ingin cerpenmu dimuat Warung Khayalan?

Baca syarat lengkapnya di sini

Share This:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *