Mistisnya Ritual Sesaji Untuk Para Arwah Kelimutu

MONI, KOMPAS.com – Belum genap pukul empat dini hari ketika dua pemuka adat Suku Lio, Panus dan Gaspa memotong kepala ayam sambil melantunkan doa-doa. Upacara kali itu digelar di Pere Konde, memecah kesunyian di kaki Gunung Kelimutu, NTT.

Berbalut tenun Flores lengkap dengan ikat kepala, Panus dan Gaspa melangsungkan upacara secara cepat. Sebagai pemuka adat, atau dalam bahasa lokal disebut Mosalaki, mereka bertugas memimpin upacara termasuk ‘hajatan’ yang digelar di daerah teritorial Suku Lio.

Senin (25/4/2016) adalah hari pertama ekspedisi “Jelajah Tanpa Batas” digelar. Ekspedisi ini, dengan atlet maraton gunung Willem Sigar Tasiam sebagai bintangnya, akan menaklukkan 50 gunung dalam 40 hari. Kelimutu adalah gunung pertama, dan sebagai warga Indonesia tulen, tim ekspedisi wajib menghormati adat istiadat lokal.

Willem sendiri berdiri di tengah kedua Mosalaki. Pria 58 tahun itu sudah mengenakan pakaian naik gunung yang lengkap: celana training, baju lengan panjang, jaket windbreaker, sepatu trekking serta headlamp yang bertengger di kepalanya.

KOMPAS.com/Sri Anindiati Nursastri Willem Sigar sampai di Taman Nasional Kelimutu, Senin (24/4/2016). Besok, ia akan mulai maraton dalam rangka Jelajah 50 Gunung 40 Hari. Titik start adalah pendakian Kelimutu, Ende, Nusa Tenggara Timur.

Ayam bernasib malang itu sempat mengeluarkan suara tercekik, sebelum darahnya merembes ke dalam wadah. Mosalaki Panus kemudian melempar sirih dan pinang. Willem mengikuti jejaknya dengan melempar tembakau.

Doa-doa kembali dilantunkan. Pati Ka Ata Mbupu, begitu nama ‘hajatan’ tersebut. ‘Mantra’ yang dilantunkan tentu berbeda setiap upacara, tergantung tujuan dan harapannya.

“Pada dasarnya untuk keselamatan. Didoakan agar  semuanya lancar,” tutur Hence Deyputra, Koordinator Wisata Taman Nasional Gunung Kelimutu kepada KompasTravel waktu itu.

Baca juga:  Kafé Surabaya—Desain Unik Kafé Kopi Yang Bikin Betah

Udara dingin semakin menggigit kulit. Kedua Mosalaki kemudian menambahkan dua tutup botol tuak ke dalam wadah, sebelum menutupnya dengan doa terakhir. Rombongan pun bergerak ke pelataran Gunung Kelimutu untuk ikut mendaki bersama Willem.

Upacara sakral seperti ini rupanya tidak jarang dilakukan. Hence menyebutkan, setidaknya dalam satu bulan ada dua kali Pati Ka Ata Mbupu digelar. Tiap 14 Agustus, berlangsung upacara Pati Ka Ata Mbupu versi masif. Upacara ini digelar di dekat puncak Gunung Kelimutu, dan kini menjadi agenda tahunan yang didukung Kementerian Pariwisata.

“Untuk ungkapan selamat, agar diberi berkah ke depannya,” tambah dia.

KOMPAS.com/Sri Anindiati Nursastri Upacara adat sebelum pendakian Willem Sigar dalam ekspedisi Jelajah Tanpa Batah, 50 Gunung dalam 40 Hari

‘Memberi makan danau’, begitu ungkapan yang tepat untuk mengartikan Pati Ka Ata Mbupu. ‘Adonan’ yang baru saja disiapkan, ayam dan sejumput sirih pinang merupakan sesaji yang diperuntukkan bagi para arwah penghuni tiga danau di Kelimutu.

Tiwu Nuwa Muri Koo Fai merupakan danau yang konon jadi tempat berkumpulnya arwah muda-mudi. Tiwu Ata Mbupu merupakan tempat berkumpulnya arwah para orang tua. Sementara Tiwu Ata Polo konon menjadi tempat berkumpulnya arwah orang jahat.

Ketiganya, secara geologis dan sedikit mistis, berubah warna dalam waktu yang tidak ditentukan. Tiwu Nuwa Muri Koo Fai adalah kawah yang disebut-sebut paling sering berganti warna, karena arwah anak muda yang bergejolak.

Beda suku, beda lagi adat istiadatnya. Terlepas dari percaya atau tidak, bukan hal sulit untuk menghormati kekayaan tradisi lokal. Hal tersebut diamini Willem, yang kini sudah sampai di Jawa Timur dan mendaki lebih dari 10 gunung. Semoga doa-doa yang dilantunkan di kaki Gunung Kelimutu bertahan selama perjalanan hingga nanti berakhir di Gunung Sibayak, Sumatera Utara.

Baca juga:  Sasar Pelancong Dan Pebisnis, Ini Hotel Terbaru Di Surabaya

Sumber:

http://travel.kompas.com/read/2016/05/14/150800927/Mistisnya.Ritual.Sesaji.untuk.Para.Arwah.Kelimutu

Share This:

Dini Hidayati

Hanya seorang gadis kecil penyuka buku, jalan-jalan, dan makan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *