Mencari Obat dari Sebuah Wabah (Virus Alay)

Alay, siapa yang tak kenal kata itu. Kata yang awal lahirnya—yaitu sekitar awal tahun 2000an—hanya memiliki arti sederhana seperti Anak Layangan atau Anak Lebay kini memiliki arti yang lebih luas lagi. Lebay pun sebenarnya dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia tidak memiliki arti. Namun diartikan oleh anak-anak muda jaman sekarang sebagai orang yang berperilaku berlebihan. Berlebihan di sini maksudnya adalah suka melebih-lebihkan sesuatu atau bersikap berlebihan—tidak sewajarnya.

Ciri khas kebudayaan alay yang umum di Indonesia adalah dari bahasa yang digunakan. Bahasa Alay biasanya digunakan dalam SMS, ber-jejaring sosial, ataupun mengkonstruksi diri dalam identitias di dunia maya. Bahasa alay berdampak terhadap rusaknya struktur tata bahasa Indonesia. Terkadang juga menggunakan bahasa yang menggabungkan antara angka dan huruf. Bahkan, bahasa alay menyebabkan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) tidak penting lagi. Sehingga, orang lain akan cenderung kesulitan untuk membacanya.

Virus alay adalah gejala yang dialami anak-anak muda di Indonesia. Anak muda yang ingin statusnya di akui di antara teman-temannya. Banyak yang terpaksa mengikuti teman-temannya lantaran ingin menjadi bagian dari mereka. Mungkin hampir sebagian dari mereka merasa tidak nyaman bersikap seperti itu, tapi karena tuntutan dari kehidupan yang mengharuskan mereka begitu. Dan ada pula yang memang ingin tampil seperti itu, meskipun mengesampingkan kenyamanan.

Bukan hanya gaya tulisan saja, tapi juga penampilan yang harus serba ngetrend dan memiliki tingkat kenarsisan tinggi. Gejala ini hampir dialami oleh semua anak muda karena menurut kebanyakan orang merupakan fase dari proses pendewasaan diri.

Dari mankah asal-usul kata alay? Entahlah, fenomena ini tiba-tiba muncul dan terus berkembang di kalangan anak muda hingga saat ini. Mulai dari nama akun di jejaring sosial, gaya hidup, hingga tontonan favorit yang mempengaruhi kehidupan sehari-hari. Untuk nama akun Facebook alay seperti Cyntia Memilih Cetia atau Nurus Dadi Claloe saat ini memang sudah jarang kita temui karena banyak dari mereka sudah meninggalkan ke-alay-an itu. Tapi, alay-alay dengan cara yang lainnya masih ada hingga saat ini, bahkan terus berkembang mengikuti perkembangan zaman.

Baca juga:  Ada 4 Keuntungan Berbelanja Produk Alfamart yang Harus Kamu Tahu

Mari kita ambil contoh gaya hidup, gaya hidup anak-anak alay yang terus berkembang mengikuti zaman. Gaya bahasa sehari-hari seperti Ciyus, Miapah, Keles, Maksud Loch, dan sebangsa lainnya sangat familiar di kalangan anak-anak muda saat ini, khususnya bagi anak alay. Seakan sudah mendarah daging dan menjadi trend. Budaya yang tidak mungkin hilang dalam waktu sebentar.

Bahasa seperti itu sudah merasuk ke dalam diri jiwa-jiwa anak muda jaman sekarang, bahkan banyak yang mengatakana bahwa jika tidak alay maka tidak gaul. Itulah permasalahan bagi generasi muda bangsa Indonesia. Generasi muda yang sudah terjangkit virus budaya alay.

Di tengah perkembangan zaman yang terus saja melahirkan anak muda alay lainnya, kita patut bersukur karena masih ada anak muda Indonesia lainnya yang tidak ikut terjerumus. Mereka bisa tak mengacuhkan budaya alay dan terus mengembangkan kreatifitas yang dimiliki. Kita patut bersukur, karena masih ada anak muda yang terus mempertahankan dan bahkan memerangi budaya alay yang sudah menjamur ini.

Budaya alay sangat meresahkan banyak orang. Bukan hanya para orang tua yang menghawatirkan perkembangan anaknya, tapi juga beberapa anak muda lainnya yang tidak suka dengan itu. Mereka yang tidak suka menganggap alay adalah suatu hal yang sangat merusak pemandangan dan pastinya dapat merusak jati diri dari bangsa Indonesia.

Meskipun beberapa kali mendapat kritikan dan kecaman. Budaya alay tetap saja ada dan terus berkembang, bahkan hingga dikenal sampai ke pelosok nusantara.

Tontonan Alay

Bukan hanya gaya hidup yang alay, bahkan tontonan alay sudah disuguhkan oleh pihak pertelivisian di Indonesia. Sungguh ironi yang tak ada habisnya. Entahlah, mungkin mereka—yang ada di balik layar—menginginkan agar budaya alay tetap tumbuh dan berkembang hingga masa yang akan datang. Para artis-artis papan atas pun turut meramaikan, yang menjadikan acara alay tersebut memiliki rating paling atas di antara acara televisi lainnya.

Baca juga:  Ada 4 Keuntungan Berbelanja Produk Alfamart yang Harus Kamu Tahu

Salah satu contohnya adalah tayangan “Yuk Keep Smile” yang saat ini sudah dihentikan penayangannya. Sebelumnya, tayangan ini sangat meresahkan masyarakat. Sebelum pencabutan ijin tayang ini, menurut banyak orang YKS lebih baik diberhentikan saja, karena lebih banyak dampak negatif daripada positifnya. Seperti contoh goyang caisar yang terkesan fulgar ditiru oleh anak-anak. Musik yang dinyanyikan juga sangat tidak layak untuk anak-anak, apalagi YKS tayang di jam utama—yang jelas pada saat itu anak-anak juga ikut menonton.

Banyak timbul pro-kontra akibat tayangan YKS ini. Bagi yang pro, YKS merupakan alternatif tontonan yang sehat, di tengah banyak tontonan lainnya yang menjemukan. Tontonan YKS lahir seakan menjadi hiburan segar bagi masyarakat Indonesia. Menjadi trobosan baru yang digemari banyak orang.

Apakah benar tontonan YKS termasuk tontonan yang segar? Entahlah. Jika memang benar adalah tontonan yang segar, tentu tidak akan banyak menuai kontroversi. Dan puncaknya adalah saat secara resmi akhirnya ijin penayangan YKS dicabut. Ijin itu dicabut lantaran YKS sudah menghina salah satu legenda Betawi dan Indonesia, Benjamin S. Aksi itu mendapat kecaman dari berbagai pihak, hingga keluarga dan juga penggemar dari Benjamin S menuntut.

Selain YKS juga ada juga tayangan televisi lainnya yang tidak kalah alay, yaitu sinetron. Sinetron saat ini cenderung tidak memiliki sisi edukasi, bahkan lebih banyak nilai negatifnya juga. Seperti contoh kisah anak sekolah yang sangat berbeda dengan anak sekolah pada kenyataannya. Mencontohkan sesuatu hal yang sangat tidak baik untuk ditiru. Seperti anak laki-laki di sekolah yang berambut gondrong, atau rok mini untuk perempuan. Belum lagi dengan sifat pemeran antagonis yang sangat jahat. Tentu itu sangat tidak baik untuk ditiru, apalagi untuk anak-anak yang masih di bawah umur.

Baca juga:  Ada 4 Keuntungan Berbelanja Produk Alfamart yang Harus Kamu Tahu

Virus alay seharusnya bukan masalah sepele. Masalah ini menyangkut jati diri bangsa, jati diri bangsa yang dirusak oleh anak bangsa itu sendiri. Para kaum alay yang berdalih memiliki Hak Azasi Manusia.

Ah, tidak ada habis-habisnya jika kita membahas tentang ini. Masalah yang nyaris tidak ada penyelesaiannya. Ironi. Entah sampai kapan.

Dampak dari Alay

Bukan hanya kita—anak-anak muda—saja yang akan menjadi korban dari budaya alay yang menjamur ini. Bukan hanya sebagian orang. Tapi seluruh bangsa Indonesia akan merasakan dampak negatifnya. Anak muda adalah generasi penerus bangsa, cikal bakal yang nantinya akan menerima tongkat estafet dari bapak-ibu kita kelak. Yang akan melanjutkan perjuangan mereka dalam mempertahankan setiap jengkal tanah air.

Jika kita sibuk dalam ber-alay ria, apa jadinya negeri tercinta kita ini kelak? Jika kita masih sibuk dengan tontonan yang sama sekali tidak mendidik itu, kapan waktunya kita bangkit dan menjadi pemuda-pemudi yang kreatif? Kreatif dalam arti lebih banyak melakukan hal positif dan berguna bagi banyak orang, bukan hanya ikut arus yang sesungguhnya menyesatkan itu.

Bagaimana jadinya negeri ini jika budaya alay terus berkembang? Bagaimana jadinya jika bangsa ini dipenuhi oleh anak-anak muda alay di seluruh pelosok negeri? Bagaimana dengan budaya asli Indonesia? Siapa yang akan mempertahankannya jika bukan anak-anak muda? Apa kabar dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia, Ejaan Yang Disempurnakan, Tesaurus Indonesia, dan Bahasa Indonesia yang baik dan benar?

Marilah kita—anak-anak muda—sebagai penerima tongkat estafet untuk terus menjaga dan melestarikan budaya negeri sendiri. Karena ini menyangkut moral dan harga diri bangsa. Jati diri bangsa yang akan hilang jika tidak dipertahankan.

*fyi: ini artikel udah lama, pas jamannya YKS masih booming. Haha. Jadi, maafken ya, kalau bahasanya agak profokatif :v

Share This:

Lalu Razieb Ariaharfi

Asli Lombok dan suka makanan pedas. Bisa dihubungi lewat twitter @lalurazieb_azie, email laluazie@gmail.com, atau mungkin bisa berkunjung ke blog pribadinya di www.pena-azie.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *