Kelas Sharing EYD dan Editing Jumat, 7 Februari 2014: Mari Mengedit Ala Editor (2)

Oleh Zahra A. Harris pada 7 Februari 2014 pukul 14:25
|

Mari Mengedit ala Editor, Bagian 2

Setelah beberapa minggu lalu kita membahas tentang mengedit ala editor (bagian 1), minggu ini kita masih akan melanjutkannya.

Dalam sebuah event lomba menulis, ada kalanya syarat utama agar juri bisa langsung menilai naskah adalah ketaatan dan kerapian penulis dalam menerapkan EYD. Seperti yang sudah sering kami tekankan, EYD bukanlah segalanya. Namun, sebagus apapun naskahmu, jika EYD-nya enggak banget, jangan harap tulisanmu mendarat mulus di deretan naskah yang siap diterbitkan. Siap-siaplah patah hati karena naskah yang menurutmu sudah luar biasa itu akan mengalami guntingan di sana-sini oleh tim editor. Bukan rahasia lagi, naskah cantik yang selama ini kautemukan di novel-novel, tak lepas dari tangan dingin seorang editor.

Untuk itu, setidaknya kita menguasai dasar-dasar pengeditan naskah dan pedoman EYD yang mutlak ada dalam seluruh naskah.

1. Penulisan dan Tanda-tanda Baca Dalam Dialog

Penulis seharusnya adalah orang yang paling mengerti tulisannya, termasuk memahami tanda-tanda baca yang lebih tepat saat ia mengakhiri dialog tokoh-tokoh cerita. Penulislah yang seharusnya menunjukkan apakah dialog tokohnya menanyakan sesuatu, menegaskan sesuatu, menekankan fakta sambil marah, meragukan sesuatu, atau menggantung ucapannya.

– Tanda koma (,) memang membuat tulisanmu berjeda, tak melelahkan, memberi kesempatan pembaca untuk rehat mengambil napas. Namun, terlalu banyak tanda koma–apalagi tanda titik–malah membuatmu lelah. Karena itu, bijaklah menggunakannya. Tanda koma tak digunakan sebelum DEH, SIH, KOK, MAH, DONG.

Contoh :

Iya deh, aku setuju! __BUKAN__ Iya, deh, aku setuju!

Aku sih setuju saja. __BUKAN__ Aku, sih, setuju saja.

Kamu kok nggak setuju? __BUKAN__ Kamu, kok, nggak setuju?

Baca juga:  Siapa sih yang layak disebut penulis?

Dia mah main setuju-setuju saja. __BUKAN__ Dia, mah, main setuju-setuju saja.

Ayo, setuju dong! __BUKAN__ Ayo, setuju, dong!

Selain itu, pastikan untuk selalu menggunakan TANDA KOMA sebelum menulis kata sapaan (Pak, Bu, Kak, teman, Bro, Sist, Sir, yuk, dan lain-lain). Mau ke mana, Bu? Ini kan, Kak? Kenapa, Mas? Capek, Bu? Sini, Bro!

– Gunakan tanda tanya (?) untuk mengakhiri pembicaraan saat sang tokoh menanyakan sesuatu.

“Mau makan apa dan di mana?” tanyaku, setengah mengajak.
“Kamu mau ke mana?” Kulihat Dodo sudah rapi saat keluar rumah.
“Bagaimana tentang rencana kita semalem?” Boy mengingatkan janji mereka.
“Kenapa dia diam saja sih?” kejarku penasaran.
“Kapan datang dari Bandung, Pak?”

Bandingkan dengan ini. Kalimatnya mengandung kata-kata yang membentuk kalimat tanya, tetapi kita tak mengakhirinya dengan tanda ?.

“Mau makan apa dan di mana, terserah yang traktir.”
“Mau ke sana atau ke situ, suka-suka gue dong.” Dodo tersenyum penuh misteri.
“Tentang rencana kita semalem, bagaimana nanti deh.” Puput pun memutuskan untuk pasrah.
“Kenapa dia diam saja, semua orang sudah paham kok.”
“Kapan lagi kalau bukan tadi malam,” sahut Pak Jeje ketika Mimi menanyakan kedatangannya.

– Gunakan tanda titik . untuk mengakhiri pembicaraan saat sang tokoh menyatakan atau menegaskan sesuatu, yakin, dan tidak ragu-ragu.

“Aku mau kita ngobrol sambil makan mi di restoran Ramen.” Lala menjawab, seperti menyadari bahwa aku sudah mulai mendekatkan diri.
“Mau malmingan ke rumah Mimi.” Dodo melirikku, yakin bahwa aku tak akan melarangnya.
“Aku pesimis dengan rencana kita itu.”
“Papa diam saja karena capek, Ma.”
“Wah, baru datang tadi malam, Dek.”

Baca juga:  Kelas EYD & Editing Malam, Jumat, 13 Juni 2014 : Penulisan Huruf Kapital untuk Penunjuk Hubungan Kekerabatan

– Gunakan tanda seru ! untuk mengakhiri pembicaraan saat sang tokoh menekankan fakta sambil marah atau bernada tinggi.

“Aku tidak sedang lapar! Kalau lapar, makan sendiri saja!”
“Bukan urusanmu!”
“Untuk kali ini tolong jangan ganggu aku dulu! ”
“Sudahlah, jangan urusi uruan orang lain!” kejarku penasaran.
“Maaf, saya tidak kenal Anda!”

– Gunakan tanda koma (,) dan atau elipsis ( … dengan spasi sebelum dan sesudahnya) untuk mengakhiri pembicaraan saat sang tokoh meragukan sesuatu atau menggantung ucapannya.

“Wah, bingung, enaknya makan di mana ya,” ungkap Radit.
“Ah, nggak mau ke mana-mana kok, Ma,” Dodo menggeleng, “memangnya Mama ingin aku …”
“Tentang rencana semalam itu, hmm, gimana ya,”
“Aku nggak tau,” sahutmu.
“Baru datang semalam, Dek,” jawab Mas Indro.

2. Sebagai pecinta bahasa Indonesia, kami juga sekaligus pengagum bahasa baku. Ingatlah selalu, menulis dengan tatanan bahasa yang baku, EYD yang benar, tidak lantas membuat tulisanmu kaku dan tidak indah. Banggalah telah memilih menulis dengan benar, jangan berdalih keindahan lantas mengabaikan pedoman pengeditan dan EYD.

Namun, khusus membuat DIALOG, kau boleh lepaskan ketergantungan bahasa baku. Khusus dialog, kau boleh dan harus rileks. Dialog dua sahabat akrab tentu beda dengan dialog saat beradu pendapat di persidangan. Satu hal yang perlu kau ingat, dalam dialog boleh berbahasa tak baku, tetapi tetap menempatkan tanda-tanda baca sebagaimana mestinya.

BERSAMBUNG

Share This:

Lalu Razieb Ariaharfi

Asli Lombok dan suka makanan pedas. Bisa dihubungi lewat twitter @lalurazieb_azie, email laluazie@gmail.com, atau mungkin bisa berkunjung ke blog pribadinya di www.pena-azie.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *