Kelas EYD & Editing Malam, Jumat, 13 Juni 2014 : Penulisan Huruf Kapital untuk Penunjuk Hubungan Kekerabatan

Oleh Zahra A. Harris pada Jumat, 13 Ju 2014

Assalaamu’alaikum, Kobimoist, Kobimoista.

Yang sudah tidur mana suaranya? Kalau ada yang masih bangun, ke sini deh sebentar. Ngobrol-ngobrol dikit, yuk.
Kali ini tentang

PENULISAN HURUF KAPITAL UNTUK PENUNJUK HUBUNGAN KEKERABATAN

Yaelaaah, huruf kapital lagiii huruf kapital lagi. Nggak bosen? -_-

Terus terang, pedoman EYD untuk huruf kapital hampir tidak pernah selesai dibahas. Poin-poinnya aja banyak banget. Kali ini kita bahas yang ini dulu deh ya, berhubung kemarin sempat baca ratusan komen yang membahas soal ini tapi dengan menyesal saya nggak bisa ikutan nimbrung.

Jadi begini.

Sedikitnya, saya menemukan 19 kata yang merupakan penunjuk hubungan dalam keluarga atau hubungan kekerabatan, yang lazim kita gunakan dalam narasi maupun dialog berbahasa Indonesia.

Ke-19 kata tersebut adalah : bapak, ayah, ibu, papa, mama, anak, kakak, abang, akang, adik, saudara, nenek, kakek, paman, bibi, om, tante, engkoh, taci.

Ada yang masih bingung saat menuliskan huruf awal ke-19 kata tersebut? Kapitalkah, atau tidak kapital? Mengapa di novel anu ditulis kapital, mengapa di buku itu tak ditulis kapital? Lalu, saya harus ikut editor yang mana dong?

Inilah pedoman Ejaan yang Disempurnakan (EYD) untuk menuliskan ke-19 kata tersebut :

1. Bila ke-19 kata itu ditulis utuh atau terpenggal menjadi kata sapaan dan menyertakan NAMA TOKOHNYA, tulislah huruf awal ke-19 kata tersebut dengan HURUF KAPITAL.

Contoh (a) : Oma Zahra, Opa Orrion, Tante Vita Story, Om Adam, Paman Kikuk, Bibi Ndari, Bapak Prabowo, Ibu Ani Yudhoyono.

Penjelasan : setiap kata yang pertama merupakan hubungan kekerabatan. Namun, jika hubungan kekerabatan itu mengikuti nama, dengan demikian mereka turut berubah bentuk menjadi nama. Dimana, untuk penulisan NAMA ORANG harus KAPITAL.

Baca juga:  Siapa sih yang layak disebut penulis?

Contoh (b) : Pak Hengki, Bu Menning, Kang Ayip, Kak Zahra (lagi), Bang Ocit, Dik Koko, Nak Yhati.
Penjelasan : kata yang pertama merupakan hubungan kekerabatan yang terpenggal menjadi kata sapaan dan mengikuti nama orang. Dengan demikian, mereka turut berubah bentuk menjadi nama. Dimana, untuk penulisan NAMA ORANG harus KAPITAL.

2. Bila ke-19 kata tersebut merujuk kepada NAMA mereka, tulislah dengan HURUF KAPITAL.

Contoh :

Neng Widah yakin sekali bahwa yang ada di depannya adalah Hengki. Dengan yakin, disapanya cowok itu sambil menunjuk novel TYFIAM di tangan, “Nggak salah lagi! Ini pasti buku Bapak!”

Penjelasan :
Perhatikan kata ‘Bapak’ di sana. Bapak memang termasuk salah satu penunjuk hubungan kekeluargaan. Namun, ditulis dengan huruf KAPITAL karena merujuk kepada nama orang yang disapa yaitu Hengki, bukan bapak dalam arti yang sebenarnya.

Jadi, kalimat di atas sama saja penulisannya seperti berikut ini : “Nggak salah lagi! Ini pasti buku Pak Hengki!”
dan bukan :
… “Nggak salah lagi! Ini pasti buku bapak!”

(3) Selain di awal kalimat, penulisan huruf awal ke-19 kata yang menunjuk hubungan kekerabatan itu TIDAK KAPITAL apabila mengikuti kata ganti kepemilikan.

Contoh :

Dia bapakku. -BUKAN- Dia Bapakku.
Engkau ibu kami. -BUKAN- Engkau Ibu kami.
Gantengnya kakak kita! -BUKAN- Gantengnya Kakak kita!
Wah, cantik sekali tantemu! -BUKAN- Wah, cantik sekali Tantemu!
Itu paman mereka. -BUKAN- Itu Paman mereka.

(4) Dalam satu paragraf, bahkan dalam satu kalimat baik narasi maupun dialog, bukan tidak mungkin terdapat cara penulisan huruf awal yang berbeda untuk ke-19 kata tersebut.
Contoh :

Dian menunjukkan selembar foto pada teman-temannya.
“Yang duduk di kiri depan itu Pak Rudi. Ya, dia guru matematika kita. Walaupun kalau lagi ngajar galaknya minta ampun, tapi kalau di rumah dia adalah bapak yang sempurna. Bijak, penyayang, dan lemah lembut sama anak-anaknya. Oh, tentu saja aku tahu. Dia kan bapakku? Ah, Bapak, aku selalu merindukanmu. Seperti malam ini. Rindu, sangat rindu, Pak. Semoga Allah selalu menjaga Bapak di sana.”

Baca juga:  UPDATA HONOR MEDIA 2015

Penjelasan :

– Pak (penggalan kata dari Bapak) yang pertama ditulis kapital karena mengikuti nama orang.
– Bapak (yang kedua) tidak kapital karena jelas sekali hanya merujuk kepada hubungan kekeluargaan yaitu pasangannya ibu.
– Dia kan bapakku? — bapakku tidak kapital, karena kata penunjuk hubungan kekerabatan ini mengikuti kata ganti kepemilikan.
– Bapak (yang ke-4 dan yang ke-5) ditulis kapital karena selain berbentuk kata sapaan, juga merujuk kepada sosok sang bapak atau namanya (Rudi), bukan merujuk hubungan kekerabatannya.

SILAKAN LATIHAN!

Share This:

Lalu Razieb Ariaharfi

Asli Lombok dan suka makanan pedas. Bisa dihubungi lewat twitter @lalurazieb_azie, email laluazie@gmail.com, atau mungkin bisa berkunjung ke blog pribadinya di www.pena-azie.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *