Kelas EYD & Editing, Jumat, 21 Maret 2014 : Huruf Kapital dalam Penyapaan/Pengacuan

Oleh Zahra A. Harris pada Jumat 21 Maret 2014

Assalaamu’alaikum …. Selamat pagi semuaaa 😀

Nggak terlalu yakin ada yang masih belum tidur, saya tetap posting materi ini ya karena sudah janji sejak sore tadi.
Selamat menyimak. Kalau ada pertanyaan, tinggalkan di komentar. Akan kita diskusikan besok.

HURUF KAPITAL DALAM PENYAPAAN/PENGACUAN

Baca baik-baik point ke-14 dalam penulisan huruf kapital yang sesuai dengan EYD :

“Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama penunjuk kekerabatan seperti ibu, bapak, saudara, kakak, adik, dan paman, yang dipakai dalam penyapaan dan pengacuan.”

Artinya :

1. Setiap kalimat yang hanya memuat informasi tentang hubungan dalam keluarga, gunakan huruf awal kata penunjuk hubungan kekeluargaan itu dengan huruf kecil (kecuali di awal kalimat dong ya).

Contoh :

– Walau bagaimanapun, aku harus mengakui wanita itu sebagai sosok ibu yang melahirkanku.

– Reno adalah kakakku yang nomor dua, sedangkan Rendy adalah kakak sulung. Aku anak bungsu.

– Anak kalian sudah besar. Semoga kalian bisa menjadi papa dan mama yang baik baginya. Lihat ‘papa’ dan ‘mama’ di sini. Huruf awalnya kecil, tidak kapital, karena jelas sekali menggambarkan tentang hubungan kakak-beradik dalam keluarga.

– Mereka adalah orang tua ayahku. Mereka kakek dan nenekku.

2. Hubungan kekeluargaan tadi (ibu, mama, papa, kakak, adik, kakek, nenek) akan ditulis dengan huruf awal kapital jika sudah berubah wujud menjadi KATA SAPAAN.

Apakah kata sapaan itu?

Kata sapaan, menurut Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa – Kemendikbud, adalah kata yang digunakan untuk menegur sapa orang yang diajak berbicara (orang kedua).
Contoh :

“Mau ke mana, Pak?”
Bukankah berbohong itu dosa, Bu?
Mendekatlah padaku, Kak!
“Saya pulang dulu ya, Nek!” pamit Ilham kepada neneknya.

Baca juga:  UPDATA HONOR MEDIA 2015

Nah, perhatikan huruf-huruf kapital yang digunakan pada huruf awal singkatan Pak (untuk bapak), Bu (dari kata ibu), Kak (dari kata kakak), dan Nek (dari Nenek). Perhatikan pula bahwa semua kata sapaan HARUS DIDAHULUI dengan TANDA KOMA.

Selain hubungan kekerabatan dalam keluarga, kata sapaan pun mencakup :

(1) Nama diri, seperti Toto, Nur. Contoh : “Mau ke mana, Nur?” “Kamu pergi sama siapa, To?”
(2) Gelar kepangkatan, profesi atau jabatan, seperti kapten, profesor, dokter, ketua, lurah, atau camat. Contoh : “Selamat pagi, Prof.” “Laksanakan, Kapten!” “Selamat bertugas, Dok,”
(3) Kata nama, seperti tuan, nyonya, nona, Tuhan, atau sayang. Contoh : “Makan apa hari ini, Tuan?” “Apa kabar, Nona?” “Sudah enakan, Sayang?”
(4) Kata nama pelaku, seperti penonton, peserta, pendengar, atau hadirin. Contoh : “Baiklah, Penonton, kita lanjutkan acaranya!” “Selamat malam, Pendengar.”

2. Hubungan kekeluargaan tadi (ibu, mama, papa, kakak, adik, kakek, nenek) akan ditulis dengan huruf awal kapital jika sudah berubah wujud menjadi KATA ACUAN.

Hari ini, Bu Rina tidak ada di rumah. – ‘Bu’ pada Bu Rina di sini diawali dengan huruf kapital karena mengacu kepada nama si ibu yaitu Rina.

Dia lebih tua dariku. Aku memanggilnya Kak Reno.

Aku terkejut mendapat telepon dari ibu. Waktu ibu menelepon, kakakku masih tidur. “Bangunin Kakak! Jam segini masih tidur, sudah tau Ibu minta dijemput di bandara!” Ibuku mengomel.

—-

Supaya lebih jelas, cobalah kau ganti setiap hubungan kekeluargaan di atas dengan nama orang yaitu Edi untuk nama si kakak dan Bu Lina untuk nama ibu. Lalu, terapkan dalam kalimat tadi.

Aku terkejut mendapat telepon dari Bu Lina. Waktu Bu Lina menelepon, Edi masih tidur. “Bangunin Edi! Jam segini masih tidur, sudah tau Bu Lina minta dijemput di bandara!” Bu Lina mengomel.

Baca juga:  Kelas EYD & Editing Malam, Jumat, 13 Juni 2014 : Penulisan Huruf Kapital untuk Penunjuk Hubungan Kekerabatan

Kalimat di atas sekilas baik-baik saja. Namun sesungguhnya tidak efektif dan tidak informatif karena hampir tidak menjelaskan ada hubungan apa sebenarnya antara aku, Bu Lina, dan Edi. Sindikat penculikan anakkah? Kelompok PKK-kah? Atau ternyata mereka keluarga kandung?

Bandingkan dengan paragraf berikut :

Aku terkejut mendapat telepon dari ibu (yaitu Bu Lina yang merupakan ibu kandungku=hubungan kekeluargaan sehingga tidak kapital). Waktu ibu (yaitu Bu Lina) menelepon, kakakku (yaitu Edi) masih tidur. “Bangunin Kakak (Edi)! Jam segini masih tidur, sudah tau Ibu (Bu Lina) minta dijemput di bandara!” Ibuku mengomel.

Sumber: Kobimo

Share This:

Lalu Razieb Ariaharfi

Asli Lombok dan suka makanan pedas. Bisa dihubungi lewat twitter @lalurazieb_azie, email laluazie@gmail.com, atau mungkin bisa berkunjung ke blog pribadinya di www.pena-azie.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *