JELA

Oleh: Fina Lanahdiana

Mungkin ada yang salah dengan sesuatu di kepala Jela, ketika segala hal menjadi serupa puzzle yang kehilangan beberapa bagiannya. Aku membayangkan ia seorang lakon dalam sebuah game yang berusaha untuk tetap hidup sementara musuhnya terus berupaya membunuh.

            Pertama-tama ia tumbuh menjadi seorang perempuan yang jatuh cinta kepada seorang laki-laki pengangguran yang menghabiskan hidupnya di pinggir jalan dan kadang-kadang di pasar. Bagiku ini sungguh tidak masuk di akal sama sekali.

            Ia terus menunggu laki-laki itu di sebuah meja makan, setelah menyiapkan segala jenis menu makanan yang laki-laki itu sukai.

            “Jam berapa ini?”

            “Delapan pagi.”

            “Aku harus pergi ke kantor. Bosku bisa marah-marah nanti. Dan gaji bulananku akan terpotong. Itu artinya masa depan yang telah aku rencanakan bisa berantakan.”

            “Masa depan?”

            Ia mengangguk mantap, dan kembali menekuri susunan rantang yang telah ia siapkan. Beberapa kali membuka dan menutupnya kembali.

            “Bukankah ibu sudah tidak bekerja?”

            “Kau ini bilang apa? Tentu saja aku masih bekerja. Tidak ada seorang pun yang berhak memecatku selama aku tidak membuat kesalahan.”

            Selalu kalimat itu yang keluar dari ucapannya. Dan ia masih menunggu seorang laki-laki yang ia akui sebagai kekasihnya.

            Tapi ia tidak sekali pun pernah percaya bahwa kekasih yang ia maksudkan sudah mati dihantam ombak saat badai tiba-tiba datang, ketika  tengah bertarung dengan laut yang biru dan semesta itu.

            Lelaki yang ia anggap kekasih itu–pernah aku kenal juga sebagai pesakitan yang pernah berkelahi dengan suaminya–dan ia tidak pernah tahu–sebab mereka sama-sama mencintainya. Aku melihatnya sendiri dengan kedua mata kepalaku.

            Setelah pertarungan keduanya, aku memukul laki-laki berandal itu dan menyeretnya ke sebuah gang sempit di belakang pasar. Aku memarahinya habis-habisan.

            “Apa yang kau lakukan?” umpatku.

            “Menyelamatkan kekasihku.”

            Tanganku semakin mengeras dengan kepalan yang rapat, ingin sekali lagi memukulnya, mungkin harus sampai tidak sadarkan diri–tapi aku tidak sanggup melakukannya–dan membiarkannya di pinggir jalan. Mungkin kelak amis tubuhnya akan dicium oleh anjing liar dan mencabiknya hidup-hidup hingga ia mati–tapi nyatanya aku tidak melakukan apapun. Tentu saja laki-laki itu kubiarkan bebas begitu saja serupa seekor kucing pencuri ikan asin di balik tudung saji lalu kubiarkan pergi.

Baca juga:  Daun-daun Terakhir yang Jatuh Menimpa Tubuh Kita

***

            Kemudian aku menyadari sesuatu. Jela dan laki-laki yang setiap pagi ia tunggu, karena ia pikir akan datang ke rumah untuk mengambil seperangkat urusan makanan di dalam rantang untuk kemudian diantar ke sawah, tempat ayah dan ibu lelaki itu pergi mengais rupiah. Satu hal yang membuatku bertanya-tanya, laki-laki itu memang pandai merayu hati siapa saja–termasuk Jela dan kedua orang tuanya. Tapi kemudian hubungan mereka tidak pernah disetujui karena rasa takut yang membelenggu kedua orang tuanya.

            Sejak saat itu Jela dipaksa untuk tidak lagi berhubungan dengan lelaki yang dicintainya. Maka beberapa bulan selanjutnya ia berkenalan dengan seorang dokter dari kota  yang bertugas di dusun kami.

            Jela yang seorang sarjana menerima dan diterima dokter itu dan akhirnya menikah. Tidak seperti sinetron atau film layar lebar kita, pernikahan mereka baik-baik saja dan tidak ada yang menentang–tidak juga laki-laki berandal yang pengangguran itu.

            Akhirnya kuketahui dari cerita Jela, bahwa yang membuatnya pernah jatuh mencintai laki-laki jalanan itu adalah ia seorang laki-laki yang romantis dan pandai merayu–aku lebih suka menyebutnya sebagai pembual. Ia seringkali mengirim sebuah surat dalam bentuk puisi yang tidak kuketahui milik siapa dan ia menyalinnya mentah-mentah tanpa Jela tahu bagian mana yang milik lelaki itu dan bagian mana yang mestinya jadi kutipan yang nama pengarangnya serta judul tulisannya mesti dicantumkan. Misalnya saja: (Kebiasaan Kecil Makan Cokelat–Afrizal Malna). Ini hanya misal saja, sebab aku tidak banyak tahu tentang puisi. Dan perihal judul itu, aku mengutipnya dari sebuah blog pribadi seseorang yang sayangnya aku lupa puisi itu tentang apa.

            “Kenapa ia belum juga datang? Ini hampir pukul sembilan. Dan aku sudah sangat terlambat untuk ke kantor.”

            “Ia telah berjanji tidak akan pernah datang.”

            “Omong kosong. Jangan mengarang cerita. Ia pasti datang!”

            Perempuan itu berdiri dari posisi duduk dan menggebrak meja hingga lempengan kayu itu bergetar.

            “Dan kau sudah tidak ada kewajiban bekerja, Bu. Kau hanya perlu beristirahat.”

            Kecemasan takut gagal membangun rencana masa depan dengan laki-laki berandal itu segera membuatnya seolah putus asa. Selanjutnya ia kembali duduk dan mengambil ponsel. Menekan beberapa angka.

Baca juga:  Ular yang Bersarang dalam Kepalaku

            Aku memperhatikan jari-jarinya yang keriput dan sedikit bergetar–namun lincah–menekan angka 112. Aku tergugu dan ingin sekali mencegah dan kemudian  memeluknya. Itu tentu saja bukan nomor telepon seseorang–bukan milik pribadi siapapun. Ia memang pernah iseng menghubungi nomor itu, benar-benar iseng hanya untuk membuktikan apakah jika ia menghubungi nomor itu, kelak akan ada seseorang yang menjawabnya. Namun sebelum seseorang bersuara dari seberang, saat di telinganya terdengar bunyi tut pendek, ia langsung mematikannya–selanjutnya tertawa seperti bocah yang berhasil menebak sebuah pertanyaan teka-teki.

            Tanganku–yang kata banyak orang memiliki kehangatan–segera menjangkau punggung Jela, lalu menuntunnya ke kamar.

            “Kau harus istirahat, Bu. Kau tampak lelah sekali. Lihat jari-jarimu itu. Semakin kurus dan tidak terurus. Berbaringlah sebentar saja.”

            Ia menurut, tidak seperti hari-hari biasanya, yang kemudian akan diakhiri ritual marah-marah dan membanting rantang yang sesungguhnya berisi makanan yang entah. Kadang ia menyebut opor ayam tapi yang terlihat hanya mi rebus instan, atau ia menyebut perkedel kentang, tapi yang terlihat adalah tempe goreng–yang hampir seluruhnya gosong. Aku tidak pernah membantunya memasak bukan karena aku tak mau, melainkan ia selalu saja menolak dan kembali marah-marah. Ia bilang aku tidak becus dalam perihal menyiapkan makanan. Padahal jika ia ingat, semestinya ia sudah hafal bahwa dulu dirinya kerap memuji masakanku dan terus membandingkannya dengan masakan sebuah restoran mahal. Bahkan ia  pernah bersemangat sekali bahwa seharusnya aku menjadi seorang chef yang pandai meramu resep masakan baru yang kadang-kadang kelihatan terdengar aneh–sebab bahan yang diracik lebih sering berupa keganjilan–namun terasa pas di lidahnya yang gemar menelusuri berbagai menu masakan.

            Pernah suatu pagi selepas subuh yang sunyi, ia memanggang panci di atas api kompor. Benar, hanya panci. Tidak ada air atau bahan mentah yang kelak bisa disulap jadi makanan. Jika saja aku tidak melihatnya, mungkin rumahnya telah habis dilahap anak-anak api yang kecil dan jinak namun berbahaya itu.

            “Kenapa kau mematikan api? Aku sedang menjerang air untuk membuat kopi. Untukku dan untukmu.”

            “Aku sedang tidak berselera minum kopi, Bu.”

            Terpaksa aku berbohong agar ia berhenti mengomel.

Baca juga:  PENGUTIL

            “Tapi aku menginginkannya.”

            Dadaku menahan sesak, antara ingin berkata yang semestinya aku katakan atau terus menghindari diri demi penghiburan dan rasa kasihan. Tapi ini sudah tidak bisa dibiarkan.

            Napas berat itu akhirnya meluncur juga dari mulutku.

            “Apa yang ibu lakukan? Kau hampir saja membakar rumah, dan bahkan mungkin kita akan mati jadi arang.”

            “Apa maksudmu menuduhku seperti itu? Kau boleh saja membenciku, tapi tidak seharusnya kau … ,”

            “Kau baru saja memanggang panci kosong. Untungnya aku tidak terlambat datang, dan perlu kau ketahui bahwa aku tidak pernah membencimu. Sedikit pun.” Sekuat tenaga aku menahan diri agar tak menghasilkan suara yang meledak-ledak.

            Sejenak kemudian ia tampak berpikir keras, barangkali ia berhasil mengingat sesuatu.

            “Ini jam berapa?”

***

            Usia Jela 57 tahun, dua minggu lagi bertambah menjadi 58. Kadang-kadang aku berpikir konyol, apakah aku mesti menjadi tua untuk bisa merasakan apa yang sedang terjadi padanya. Banyak orang selalu suka berkata dan mencari upaya menyelamatkan diri dari nasib kesedihan dengan kalimat ini: kau bisa berkata seperti itu karena kau tidak sedang berada pada posisiku. Benarkah demikian? Lantas mesti bagaimana? Adakah sebuah alat atau mesin penghancur kesedihan yang memungkinkan seseorang untuk bertukar tubuh? Kurasa aku mulai gila.

            Mungkin maksudnya adalah bahwa jika aku mengalami apa yang seseorang alami itu yang dinamakan berada pada posisi yang sama. Rasanya ingin sekali menempatkan diriku pada sebuah titik lalu membuat titik baru dan baru lagi sehingga memungkinkan untuk ditarik garis-garis penghubung yang barangkali bisa membentuk macam-macam grafik sehingga kelak bisa ditarik kesimpulan titik mana yang paling rendah dan titik mana yang paling berhasil menyelamatkan diri dari kehancuran. Jika sudah seperti itu yang akan terjadi adalah …

            Ia terbangun dengan perasaan gelisah karena sebuah mimpi buruk mengenai suaminya.

            “Itu bukan mimpi, Bu. Itu …. “

            Aku ingat benar peristiwa itu. Sebuah kebakaran terjadi  di salah satu rumah penduduk akibat seseorang meninggalkan setrika begitu saja dalam keadaan masih menyala. Seorang warga melaporkan bahwa di dalam rumah masih ada seorang anak yang terjebak api dan kepulan asap yang semakin membumbung ke langit.

Suaminya pergi menerobos api karena merasa bertanggung jawab sebagai seorang dokter. Tapi selanjutnya ia tidak pernah kembali menemui Jela. Suaminya hilang ditelan api. Begitu pun dengan seorang anak yang hendak ia selamatkan. Sebuah kesalahan yang dilakukan suaminya adalah bahwa ia lupa, petugas pemadam kebakaran–yang tidak kunjung menunjukkan tanda kehadiran–lebih berhak menyelamatkan bocah itu, sebab mereka dibentuk memang untuk melakukannya. Semestinya seorang dokter hanya menyelamatkan pasien, bukan melawan api.

            Mungkin ada yang salah dengan sesuatu di kepala Jela, sehingga ia lebih mengingat laki-laki pengangguran itu daripada suaminya yang seorang dokter, juga aku yang ia anggap anaknya, padahal hanya seseorang yang ditugaskan untuk menjadi perawatnya.(*)

Biodata:

Fina Lanahdiana, lahir dan tinggal di  Kendal.

Ingin cerpenmu dimuat Warung Khayalan?

Baca syarat lengkapnya di sini

Share This:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *