Everybody’s Man: Cerita Dari Setiap Wanita

Penulis: Arie Fajar Rofian
Tebal Buku: 195 Halaman
Penerbit: Elex Media Komputindo

Everybody’s Man adalah sebuah novel yang menggunakan enam tokoh ‘aku’ untuk menggambarkan seorang tokoh utama bernama Rian. R-I-A-N. Empat huruf, satu raga. Enam cerita, satu jiwa. Sebagai pembaca, hal yang membuat saya salut adalah karakter Rian yang ‘konsisten’. Menurut saya, penulis berhasil membuat Rian sebagai karakter yang memorable, karena enam orang wanita bisa menceritakan ‘hal yang sama’ tentang karakter Rian.

Sayangnya, jika narasi dari tulisan yang mengunakan sudut pandang orang pertama merupakan wujud pikiran, perasaan dan pengamatan karakter, maka dalam novel ini, ada beberapa karakter yang kehilangan keunikannya. Penulis bahkan khilaf karena ada dua karakter yang berbeda yang bisa menganalogikan sesuatu dengan cara yang sama, “Seperti dompet tanggung bulan,” untuk mendeksripsikan mimik wajah. Mungkin benar kalau tidak semua karakter tercipta berbeda tapi saat ada karakter yang sulit dibedakan, saya merasa bahwa mereka hanya karakter figuran saja. Untuk faktor bahasa, melalui enam sudut pandang ‘aku’ tersebut, penulis menggunakan gaya narasi yang sama, yang menurut saya puitis. Di sisi lain, saya mengerti jika hal tersebut sengaja ditulis demikian untuk menjaga konsistensi gaya tulisan.

Enam versi cerita untuk karakter utama bernama Rian, ditulis oleh enam gadis berbeda, menjadikan keseluruhannya sebagai cerita utuh. Pada awalnya, saat membaca cerita PoV1 yang pertama, saya serasa membaca cerita singkat yang sudah menemukan ending. Saat membaca membaca PoV1 yang kedua jadi serasa membaca novelet yang tak selesai. Mulai membosankan. Saat membaca PoV1 yang ketiga, cerita mulai tersketsa di pikiran saya, “Oh, si dia dan si dia hubungannya ini.” Sampai pada akhirnya, terkumpul lah potongan puzzle yang membuat cerita utuh. Sebagai penutup, PoV1 yang keenam, yang menjadi kisah terakhir terakhir dalam novel ini, seolah berperan sebagai rangkuan keseluruhan kisah menyajikan ending yang tak tertebak saya.

Baca juga:  Review Novel Summer in Seoul Karya Ilana Tan

Kelebihan novel:

1. Cerita yang disajikan realistis. Konflik yang terjadi dalam novel ini masih seputar jatuh cinta, patah hati, iri dan lainnya, tapi alur yang cerdas membuat novel ini bukan hanya kisah fiksi klise.

2. Sangat minim kesalahan tata bahasa.

3. Untuk karya fiksi romance yang umumnya menggunakan satu/dua leading karakter, mudah sekali menebak kalau tokoh A akhirnya akan menyukai tokoh B atau hal-hal seperti itu, tapi novel ini berbeda. Enam PoV1 membuat setiap cerita menyajikan satu puzzle baru untuk disusun.

Kelemahan:

1. Untuk pembaca tertentu, penggunaaan enam Pov1 sekaligus mungkin akan membingungkan. Selain itu, saat karakter lain hanya bercerita tentang Rian, saya merasa fungsi mereka hanya sebagai narator cerita.

Rate: 3.4 dari 5 Bintang

Oya, kalau kamu tertarik dengan penulis yang satu ini, yuk intip review novelnya yang lain: Review Novel Berikutnya Kau yang Mati.

Share This:

Tari

I have spent my time to know "About Me" and I am still on process. Klasik? :) Untuk kamu yang menyukai laut, langit, sawah, hutan, manga dan anime, film-film seru dan beberapa hal abstrak, kita pasti akan segera menjadi teman akrab. Piacere!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *