Daun-daun Terakhir yang Jatuh Menimpa Tubuh Kita

Cerpen Erwin Setia

Kenangan selalu punya cara untuk menyelinap, persis sepeda motor di jalanan padat. Tetapi, cara dan waktunya menyelinap, tak pernah kita tahu. Ia tidak memiliki lampu sein, tak pula menyalakan klakson sebagai penanda. Tiba-tiba saja ia datang dan kita tersungkur ke jurang-jurang waktu yang dalam. Jurang-jurang yang kita pikir sudah sepenuhnya tertutupi bangunan ingatan-ingatan baru. Namun, kita tahu apa yang selama ini kita pikirkan ternyata keliru. Jurang itu masih ada, sekalipun kerap kita lupa dan pura-pura menganggapnya tiada.

Aku tidak tahu bagaimana caranya kenangan itu berkerja padamu. Tetapi, baik, akan aku ceritakan tentang kurang ajarnya kenangan menyambangiku pada suatu pagi yang teduh.

Kita tahu, kenangan itu abstrak, tapi ia dapat meminjam wujud apa pun untuk memperlihatkan eksistensinya. Dan pagi itu ia mengambil wujud seorang anak kecil yang menyanyikan lagu orang dewasa.

Aku sedang berlari-lari santai mengelilingi komplek ketika bocah lelaki seusia sekolah dasar itu memamerkan suara sumbangnya.

Bila nanti saatnya t’lah tiba… Kuingin kau menjadi istriku…¹

Langkahku otomatis berhenti. Lagu itu seperti tangan gaib yang keluar dari dalam tanah dan menjerat kakiku. Aku menoleh pada anak itu yang berjalan-jalan girang bersama tiga orang temannya. Ia mengulang-ulang dua baris lirik tersebut seolah-olah lagu itu tidak punya lirik lain. Ia dan teman-temannya tertawa tanpa beban, seolah-olah memang hanya untuk tertawalah mereka dilahirkan.

Itu adalah lagu yang dulu biasa kunyanyikan untukmu. Dan hanya untukmu. Bahkan hingga kemudian aku memiliki kekasih-kekasih lain setelahmu, aku tak menyanyikan lagu itu untuk mereka. Untukmu. Dan hanya untukmu.

Aku ingat, kau teramat gembira kala kunyanyikan lagu itu di sebuah restoran pada suatu malam. Lirih saja aku menyanyikannya. Hanya agar didengar sepasang telingamu.

Kau juga kerap meminta rekaman suaraku menyanyikan lagu itu. Aku selalu menurutimu. Kukirim lewat pesan suara. Di seberang sana, kutahu, kau berbinar-binar mendengar suaraku. Kau berbinar-binar bukan karena suaraku—suaraku tak merdu—tapi karena aku.

***

Baca juga:  Ular yang Bersarang dalam Kepalaku

Ketika kenangan mulai menjinak, aku meneruskan lari pagiku. Keringatku belum banyak, tapi aku sudah merasa letih. Aku tahu, ini pasti karena pikiranku tadi berlarian hingga jauh. Berlarian melewati masa-masa silam. Coba, apa yang lebih jauh daripada melintasi waktu?

Aku menepi, beristirahat di sebuah tempat duduk kayu yang berada di tepi jalan. Bocah lelaki yang merangkap kurir kenangan itu sudah pergi bersama teman-temannya. Mereka berbelok ke suatu tikungan, lalu lenyap. Dari arah mereka terakhir tampak, matahari pagi menumpahkan cahayanya melimpah-limpah.

Kesunyian melingkupiku. Dalam kesendirian, aku coba mengingat-ingat sejak kapan aku memutuskan hidup sendiri dan tak lagi menjalin hubungan dengan perempuan manapun.

Sejak saat itu, sejak aku sadar aku tak bisa sepenuhnya bahagia kecuali bersamamu.

***

“Mengapa?” tanyaku saat ia tiba-tiba saja meminta untuk berpisah. Lelaki itu menggeleng, wajahnya serupa orang linglung. Setelah beberapa keheningan, baru ia menjawab, jawaban yang tak pernah bisa kumengerti—bahkan hingga saat ini, bertahun-tahun setelah ia mengucapkannya. “Aku tidak dapat menjelaskannya padamu. Hati kecilku hanya berkata, kita memang harus berpisah. Maafkan aku.”

Sejak pertemuan Sabtu malam yang janggal itu, aku tak pernah bertemu lagi dengannya. Ia juga tak pernah lagi menghubungiku. Aku juga tak pernah menghubunginya. Aku terlampau kecewa untuk mencerna perpisahan yang begitu tiba-tiba.

Namun, sesungguhnya aku masih mencintainya. Bagi perempuan pemalu sepertiku, jatuh cinta adalah hal yang sangat sulit. Maka, ketika aku telah jatuh cinta, perasaan itu tak dapat musnah dan tak dapat tergantikan. Mungkin rasa cintaku seperti bayi yang telanjur lahir dan mustahil dikembalikan ke dalam rahim ibunya. Hanya kematian satu-satunya cara yang mungkin mampu melenyapkan cintaku kepadanya. Tapi, aku pun tak begitu yakin dengan hal itu. Sebab kematian hanya perpindahan alam, bukan pemusnahan ruh dan jiwa secara total.

Karena itulah aku tetap melajang, sementara ia sudah bergonta-ganti perempuan. Aku tahu ia telah menjalin hubungan dengan banyak perempuan melalui kata-kata temanku dan status-statusnya di media sosial. Namun, kuperhatikan, umur hubungannya dengan perempuan-perempuan itu tak pernah panjang. Bahkan kurasa masih lebih panjang umur sebonggol jagung. Aku tidak tahu kenapa. Namun nuraniku berbisik: ia masih mencintaiku. Aku tahu keyakinanku ini aneh. Aku sudah kecewa dibuatnya. Tapi, mengapa aku justru seperti masih mengharapkannya, seakan-akan tiada lelaki lain di dunia ini. Tapi, bukankah cinta memang aneh dan sukar dicerna akal sehat?

Baca juga:  Alamat Email Media yang Menerima Naskah Cerpen/Puisi/Esai

***

Seusai menenggak botol minuman dan menyisakannya separuh, kubuka ponselku. Aku mengecek linimasa akun media sosialku. Di halaman terdepan, kudapati kau baru saja mengunggah sebuah foto. Foto sekuntum bunga plastik merah terang yang tergeletak di atas meja kaca. Di bawah foto itu, kau menulis sejumlah baris takarir—yang sebenarnya tak terlalu sesuai dengan foto, tapi itu kan hakmu:

Dear future husband,

Make time for me

Don’t leave me lonely

And know we’ll never see your family more than mine²

Aku ingat, itu adalah potongan lagu yang sering kaunyanyikan untukku. Dan bunga plastik itu adalah bunga pertama yang kuberikan padamu.

***

Setelah mengunggah foto bunga plastik pemberian lelaki itu yang kusertai penggalan lirik lagu yang kerap kusenandungkan untuknya di akun media sosialku, aku beranjak ke luar rumah.

Sinar mentari masih muda dan udara teramat segar ketika tahu-tahu saja aku melangkah sudah cukup jauh. Sebenarnya aku tak terlalu suka keluar rumah tanpa keperluan. Namun, rasanya tadi kakiku seperti minta untuk dilangkahkan. Maka berjalanlah aku tanpa tujuan tertentu menelusuri jalan-jalan komplek yang beraspal.

Deretan pohon melambai-lambaikan daunnya. Beberapa berjatuhan ke tanah dan jalanan. Jam tangan menunjukkan pukul delapan kurang. Aku telah berjalan hampir setengah jam dan memutuskan rehat sejenak di sebuah kursi kayu. Sedang ada seseorang di kursi itu, tapi kursinya cukup lebar untuk menampung lebih dari satu orang. Orang itu tengah menunduk menatap layar ponsel di tangannya. Melihatnya, kuambil pula ponsel dari saku.

***

Aku berpikir untuk berkomentar di kiriman terbarumu. Namun, hal itu urung kulakukan. Alih-alih, aku justru membuat kiriman tersendiri. Aku memfoto deretan pohon yang ranum, rapi, dan terawat di seberang kursiku. Lalu, secara asal menuliskan takarir di bawahnya dengan lagu yang suka kunyanyikan untukmu:

Baca juga:  Tetes yang Berharga

Bila nanti saatnya t’lah tiba

Kuingin kau menjadi istriku

Berjalan bersamamu dalam terik dan hujan

Berlarian kesana-kemari dan tertawa

Aku hanya ingin menuliskannya. Tak peduli apakah itu nyambung dengan foto atau tidak. Aku senang menghayati lagu itu, yang turut meruapkan aroma kenangan dan tubuhmu.

***

“Hah!” reflekku manakala melihat kiriman terbarunya. Ia mengunggah foto deretan pohon-pohon hijau tua. Pohon-pohon yang subur dan kelihatan sehat. Pohon-pohon yang tampak sama persis dengan bentangan pohon di hadapanku. Berganti-ganti aku memandangi pohon di foto dan di depan mataku, membanding-bandingkannya. Keduanya betul-betul mirip. Tak ragu lagi, itu adalah dua deretan pohon yang sama.

Ketika pandanganku menoleh ke samping, orang yang berada di sampingku—rupanya lelaki—juga menoleh. Pandangan kami bersirobok. Waktu seakan membeku. Aku dan lelaki itu sama-sama terpaku. Sehelai daun melayang lalu mendarat di celah kursi yang membatasi tubuhku dengan tubuhnya.

***

“Kenapa dulu kamu memutuskan perpisahan yang begitu tiba-tiba?” kata perempuan itu dengan tatapan penuh tanya dan sedikit mengiba.

“Aku juga tak begitu paham. Aku hanya sedang ingin berpisah. Itu saja. Tapi, kalau kamu bertanya apa saat itu aku membencimu, tidak, aku tidak pernah membencimu. Aku sangat mencintaimu, bahkan sampai kini. Maafkan aku.”

“Tapi kenapa?” suara perempuan itu seperti hilang.

“Entah. Mungkin perpisahan itu ada maknanya juga. Tapi aku belum tahu apa.”

Tak lagi ada percakapan sesudah itu. Keduanya diam membisu seperti pohon-pohon. Angin pagi mendesir kencang, menggugurkan daun lebih banyak. Menimpa kepala dan tubuh sepasang manusia yang tengah mencerna hening.

Ketika angin kembali tenang, si lelaki mendekap perempuan itu dengan ragu, lalu berbisik.

“Jika kukatakan perpisahan itu ada untuk merekatkan kita kembali dalam hubungan lebih erat, percayakah kamu?”

Perempuan itu membalas dekapan si lelaki. Daun-daun terakhir jatuh di antara pundak dan leher mereka. Menjadi saksi perihal hubungan sepasang manusia yang terkadang aneh dan penuh misteri. (*)

Bekasi, Juli 2018

¹ petikan lagu Akad Payung Teduh

² petikan lagu Dear Future Husband Meghan Trainor

***

BIODATA PENULIS

Erwin Setia lahir tahun 1998. Penikmat puisi dan prosa. Kini menempuh pendidikan di Prodi Sejarah dan Peradaban Islam UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di berbagai media seperti Koran Tempo, Media Indonesia, Pikiran Rakyat, Minggu Pagi, Solopos, Haluan, Koran Merapi, Padang Ekspres, dan Detik.com. Cerpennya terhimpun dalam Dosa di Hutan Terlarang (2018). Bisa dihubungi di Instagram @erwinsetia14 atau melalui surel: erwinsetia2018@gmail.com.

Ingin cerpenmu dimuat di Warung Khayalan?


Baca syarat lengkapnya di sini



Share This:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *