(Bukan) Soal Politik

Sudah berbulan-bulan blog ini tidak saya isi dengan tulisan baru. Okelah, sekarang saya akan mengisinya dengan tulisan saya. Sebelumnya, perlu saya tegaskan bahwa ini adalah opini saya pribadi. Jadi, setuju atau tidak dengan opini dalam tulisan ini adalah semua menjadi kewenangan penuh pmbaca.

Tulisan saya ini akan sedikit berhubungan dengan politik, tapi bukan murni politik. Bukan soal kebijakan perombakan kabinet yang baru-baru ini dilakukan Presiden ataupun kebijakan-kebijakan lainnya, bukan soal itu. Saya akan membahas lebih kepada respon masyarakat. Respon masyarakat terkait presiden baru kita.

Iya, saya sedikit sebal bercampur jengkel dengan apa yang terjadi di tengah masyarakat–terutaman di media sosial–yang membuat saya memiliki ide untuk menulis ini. Bagaimana tidak? Sudah hampir satu tahun Presiden kita yang baru ini menjabat, tapi masih saja ada membahas pemilihan presiden setahun yang lalu seakan belum bisa move on. Memang, waktu pemilihan lalu saya memilih Prabowo (saya jujur saja, biar terbuka), tapi bukan berarti dalam tulisan ini saya akan murni membela mati-matian calon saya itu. Bukan, sama sekali bukan itu tujuan saya.

Muak, iya, mungkin bisa dibilang begitu. Saya sudah sangat muak melihat berbagai macam berita yang kemudian dikomentari atau sedikit dipelintir dengan kesimpulan yang sebetulnya bersifat sangat provokatif, lalu menimbulkan berbagai reaksi dan perdebatan yang berujung pada emosi yang meledak-ledak.

Sebagai contoh saja, saya tidak habis pikir masih saja ada yang menganggap calon pilihannya adalah yang terbaik. Sampai-sampai, mungkin, Jokowi ataupun Prabowo dianggap titisan dewa, ini seperti judul cerpen saya dalam buku antologi “Rung Buaya” yang akan terbit di Penerbit Unsa. Semakin gila saja negeri ini. Bahkan, hal yang diluar nalar pun terjadi, itu saya ketahui ketika menonton sebuah acara berita yang ditayangkan salah satu stasiun tv swasta.

Baca juga:  17 Negara dengan Tentara Terkuat di Dunia

Saat itu Presiden Jokowi sedang berkunjung ke sebuah daerah yang sebelumnya telah terjadi musibah bencana tanah longsor. Semua orang yang ada di sana berebut ingin berjabat tangan dengan beliau. Dan, bagian mirisnya adalah air bekas cuci kaki Presiden kita tercinta itu menjadi rebutan warga di sana. Bekas cuci kaki yang notabene adalah bau dan kotor menjadi rebutan. Salah satu warga yang ditanyai beranggapan bahwa air cuci kaki itu akan membawa berkah karena berasal dari orang yang rendah hati dan baik seperti Jokowi. Sangat memprihatinkan.

Bukan itu saja, hal lain yang tidak kalah uniknya adalah fenomena Jonru. Siapa yang tidak kenal orang ini? Orang yang berhasil populer karena tulisan-tulisannya yang kerap menghina Jokowi. Penulis yang satu ini berhasil mendongkrak namanya sendiri berkat tulisan dan kelakuan memalukannya itu. Terbukti dari jumlah Follower di Twitter dan Fanpage-nya yang meningkat drastis. Saya menduga, tujuan sebenarnya dari Jonru bukanlah untuk mendukung Prabowo, melainkan untuk mendongkrak popularitasnya sendiri. Mirip artis-artis yang buat sensasi biar terkenal lagi.

Jokowi keturunan Komunis, Jokowi cuman jadi boneka kanjeng mami, Prabowo adalah Pemimpin Diktator, Prabowo yang udah gak punya tiit, dan masih banyak lagi hinaan-hinaan yang mereka dapatkan. Banyak opini yang beredar di masyarakat hingga detik ini. Ada yang menyesal memilih Jokowi, ada yang tetap bersikukuh bahwa Presiden yang terpilih adalah yang terbaik untuk rakyat, ada pula yang menganggap bahwa Prabowo adalah yang terbaik yang seharusnya memimpin Indonesia setelah berbagai carut marut yang terjadi.

Yang menentang kebijakan pemerintah bukan berarti adalah pendukung Prabowo, begitu pula sebaliknya. Yang mendukung kebijakan Pemerintah bukan berarti adalah dulunya pendukung Jokowi. Kesal ketika mengkritik pemerintah kemudian dibalas lagi dengan kritikan bahwa apakah lebih baik jika Prabowo yang menjabat? Tidak ada hubungannya mengkritik pemerintah dengan khayalan terkait berubahnya pemenang dalam pilpres tahun lalu.

Baca juga:  Surat Untuk Calon Presiden

Apa salahnya mengkritik jika memang perlu dikritik? Toh Indonesia Negara demokrasi, setiap warga negaranya bebas mengeluarkan pendapat. Bahkan Terlepas dari siapa yang kita dukung pada pemilihan presiden tahun lalu, marilah kita sama-sama berjalan di jalan yang sama. Jika kebijakan pemerintah dirasa kurang benar, marilah sama-sama mengkritik, dan begitu pula sebaliknya. Jika kebijakannya sangat baik bagi ba11008638_476720502491798_7617863345745494044_nngsa, marilah sama-sama mendukungnya. Membela mati-matian meskipun salah tidak akan ada untungnya, malah bikin rugi sendiri, lho!

Mari kita perjelas, karena mereka adalah manusia biasa, bukan nabi, bukan dewa, dan bukan juga manusia setengah dewa seperti Percy Jackson dalam filmnya yang merupakan Putra dari Dewa Laut, Poseidon. Jadi, sudah sewajarnya lah mereka memiliki kesalahan dan kelalaian dalam menjalani kehidupan.

Share This:

Lalu Razieb Ariaharfi

Asli Lombok dan suka makanan pedas. Bisa dihubungi lewat twitter @lalurazieb_azie, email laluazie@gmail.com, atau mungkin bisa berkunjung ke blog pribadinya di www.pena-azie.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *