7 Fakta Menarik Seputar Sudirman Cup, Termasuk Asal Nama Sudirman

Tanggal 19 Juni 2019 lalu telah mulai dilangsungkan turnamen beregu campuran Bulu tangkis terbesar di dunia, Sudirman Cup. Dari namanya, Anda pasti bisa menebak kalau itu adalah nama orang Indonesia. Tapi siapakah Sudirman? Apakah yang dimaksud adalah Pahlawan Nasional Jendral Soedirman? Dan apa saja fakta menarik dibalik berdirinya salah satu turnamen beregu paling bergengsi ini? Berikut ini 7 fakta menarik di dalamnya.

  1. Sudirman adalah Mantan Ketua Umum PBSI
Dick Sudirman

Nama Sudirman Cup diambil dari nama mendiang Dick Sudirman, salah tokoh bulu tangkis Indonesia yang paling berpengaruh. Jadi tentu saja bukan Jendral Soedirman.  Lahir di Pematang Siantar, 19 April 1922, Sudirman sudah mencitai olahraga tepok bulu ini sejak masih kecil. Hal ini tidak terlepas dari keluarganya yang memang menyukai olahraga ini.

Bukan hanya ketua umum biasa, Ia juga lah yang menjadi salah satu pendiri induk organisasi bulutangis di Indonesia, PBSI. Menjadi ketua umum pada tahun 1952 – 1963 dan 1967 – 1981, Dick Sudirman juga pernah menjadi salah satu pebulu tangkis nasional. Ia wafat di usia 64 tahun pada tanggal 10 juni 1986 akibat komplikasi gagal ginjal dan darah tinggi.

Sejak itu, Indonesia, khususnya Suharso—salah satu tokoh bulu tangkis nasional dan internasional—berjuang agar nama Sudirman dapat diabadikan menjadi salah satu kejuaran dunia. Melalui berbagai kesulitan, akhirnya nama tersebut disetujui dan secara resmi diselenggarakan pada tahun 1989 di Indonesia.

2. Piala Sudirman didesain Mahasiswa Seni Rupa ITB

Piala Sudirman (c) Instagram @badmintalk_com

Pada tahun 1988 PBSI mengadakan sayembara yang dimaksudkan untuk mencari desain Piala Sudirman. Pada saat itu terjaring 207 penserta dari 20 provinsi di Indonesia. Sayembara tersebut kemudian dimenangkan oleh Rusnandi, salah satu Mahasiswa Seni Rupa ITB.

Baca juga:  7 Fakta Unik dan Sejarah All England yang Perlu Kamu Tahu

Piala Sudirman yang ada hingga saat ini merupakan hasil desain Ruswandi setelah melalui beberapa modifikasi oleh dewan juri. Proses pembuatan lalu dilakukan oleh PT Masterix Bandung yang menelan biaya hingga Rp 27.000.0000. Nominal tersebut merupakan nilai yang berlaku pada tahun 1989, sebelum terjadi krisis moneter. Dengan nominal yang berlaku saat ini, piala itu kemungkinan bernilai ratusan juta rupiah.

Berlapis emas 22 karat, piala ini terdiri dari beberapa bagian, di antaranya adalah; puncak piala berbentuk Candi Borobudur, badan piala berbentuk shuttlecock dan terkahir adalah pegangan piala berbentuk benang sari yang melambangkan bibit unggul bulu tangkis.

Di bagian bawah juga terdapat tulisan “Presented to the International Badminton Federation by Badminton Asociaton of Indonesia. Jakarta, May 1989”. Hal ini menjadi bukti bahwa piala tersebut merupakan sumbangan dari PBSI untuk BWF (dulu bernama IBF).

Terakhir, alas pada Piala Sudirman yang berbentuk segi delapan terbuat terbuat dari kayu jati. Bentuk segi delapan melambangkan arah mata angin. Di sisinya terdapat deretan nama pemenang sejak tahun 1989.

3. Pertama Kali Diselenggarakan tahun 1989

Sebagai negara yang mengusulkan Sudirman Cup, Indonesia juga mendapat kepercayaan sebagai tuan rumah pertama kejuaran beregu campuran ini pada tahun 1989. Saat itu Indonesia dihuni oleh pemain-pemain top dunia seperti Susi Susanti, Eddy Hartono, Gunawan, Eddy Kurniawan, Verawati Fajrin dan Yanti Kusmiati.

4. Indonesia baru 1 kali juara

Sebagai tuan rumah untuk pertama kali, Indonesia menaruh harapan tinggi menjadi juara. Apalagi mereka didukung oleh skuad terbaik saat itu. Indonesia memang berhasil juara saat itu, namun mereka mendapatkannya dengan tidak mudah. Bahkan, Indonesia harus kalah 0-2 terlebih dahulu sebelum berbalik unggul menjadi 3-2 dari Korea Selatan.

Baca juga:  10 Kejadian Menarik Selama Perhelatan Asian Games 2018: Unforgettable Moment!

Padahal saat itu Indonesia yakin mampu meraih menang di dua partai pertama melalui ganda putra dan ganda putri. Namun sayangnya keadaan di lapangan berbanding terbalik, Indonesia tertekan. Susy Susanti yang turun di partai ketiga memikul beban yang berat, karena jika ia kalah habislah sudah. Apalagi saat itu di atas kertas lawannya, Lee Young-suk jauh lebih diunggulkan.

Perjuangan Susy juga tidak mudah, saat itu ia terpaksa harus mengakui keunggulan lawan di gim pertama dengan skor 10-12. Bahkan di gim kedua Susy kembali tertinggal 7-10 dan terlihat banyak penonton di Istora yang pulang karena harapan sepertinya sudah musnah. Namun Susy Susanti bukanlah wanita yang mudah menyerah. memanfaatkan lawan yang terlihat tegang dan bermain buru-buru, Susy berhasil mengamankan gim kedua dengan skor 12-10.

Ini adalah awal dari momen kebangkitan Indonesia. Bahkan gim ketiga dimenangkan dengan mudah oleh Susy dengan skor 12-0. Setelah itu Indonesia mampu mengunci kemenangan berkat tunggal putra dan ganda campuran yang juga meraih kemanangan. Indonesia menang dramatis 3-2 atas Korea Selatan.

Kemenangan ini kemudian menjadi kenangan manis satu-satunya yang dimiliki Indonesia di Sudirman Cup hingga saat ini. Sudah 30 tahun berlalu tanpa pernah sekalipun piala itu pernah mampir di Indonesia. Sekarang adalah waktunya!

5. Negara Paling Sering Juara adalah Tiongkok

Meski sebagai pencetug kejuaraan bulu tangkis beregu campuran paling bergengsi, Indonesia baru 1 kali meraih gelar juara. Tiongkok adalah negara yang paling banyak mengoleksi gelar tersebut. Terhitung mereka sudah juara sebanyak 10 kali.

Jika seandainya mereka tidak kalah di final dari Korea Selatan pada tahun 2003, Tiongkok akan menjadi negara yang menjuarai Sudirman Cup 11 kali berturut-turut  sejak tahun 1995. Dominasi yang sangat kuat mereka perlihatkan di olahraga tepok bulu pada masa lalu.

Baca juga:  Praveen dan Debby Sukses Membawa Pulang Gelar Juara All England 2016

6. Hanya 3 Negara yang Pernah Juara

Sudirman Cup sudah diselenggarakan sebanyak 15 kali hingga tahun 2017, namun hanya ada 3 negara yang pernah menjuarainya. Negara itu adalah Indonesia, Korea Selatan dan Tiongkok. Selain itu ada 2 negara lainnya yang prestasi tertingginya hanya sebagai runner up, yaitu Denmark (1999 dan 2011) dan Jepang (2015).

Bagaimana dengan tahun ini? Apa akan ada juara baru? Semoga tidak, karena Indonesia memiliki harapan tinggi untuk membawa pulang Piala Sudirman.

7. Indonesia sebagai Runner Up Terbanyak

Indonesia adalah negara dengan status runner up terbanyak sepanjang penyelenggaraan Sudirman Cup hingga saat ini. Dari 15 kali penyelenggaraan hingga tahun 2017, Indonesia berhasil masuk final sebanyak 7 kali, namun 6 di antaranya harus berakhir dengan kekalahan.

Bagaimana dengan tahun ini? Dibanding tahun-tahun sebelumnya, banyak yang menaruh ekspektasi tinggi pecinta tepok bulu angsa pada skuad Sudirman Cup tahun ini. Hal itu tidak terlepas dari prestasi merata diperlihatkan di hampir semua sektor selama setahun belakangan. Apalagi Indonesia masuk sebagai unggulan ke-3 di Piala Sudirman kali ini. Jadi tentu tidak mengherankan bila banyak yang beranggapan bahwan tahun ini adalah periode emas kebangkitan bulu tangkis nasional.

Yang paling membanggakan tentu saja kebangkitan tunggal putra Indonesia, selain ganda putra yang terus beregenerasi. Bukan hanya karena keduanya berhasil masuk peringkat 10 besar dunia, namun juga karena salah satunya, yaitu Jonatan berhasil menjuarai Asian Games 2018. Juara yang terakhir kali diraih oleh Taufik Hidayat 12 tahun sebelumnya.

Tunggal putra, ganda putra dan ganda putri adalah tumpuan Indonesia untuk mendapatkan poin. Meski begitu, Indonesia juga masih memiliki ganda campuran peringkat 6 dunia (Hafiz/Glo) dan tunggal putri yang diharapkan mampu memberikan kejutan dengan pelatih barunya. Menarik ditunggu.

Share This:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *