7 Fakta Menarik Hendra/Ahsan, Jawara All England 2019

Mohammad Ahsan dan Hendra Setiawan adalah pasangan ganda putra bulutangkis Indonesia sukses meraih gelar juara All England 2019 setelah mengalahkan Ganda Malaysia dengan rubber game, Aaron Chia/SohWooi Yik 11-21, 21-14, 21-12. Selamat! Tua-tua mematikan adalah julukan yang pantas disematkan untuk keduanya

Pecinta tepok bulu pasti tahu kalau pasangan ini sempat berpisah satu tahun setelah lama berpasangan. Selama berpasangan, berbagai gelar berhasil diraih pasangan ini. Di antaranya adalah juara dunia dan berbagai Super Series, termasuk salah satunya adalah juara All England 2014.

Mau tahu fakta-fakta lainnya seputar pasangan gaek Indonesia yang satu ini. Simak 7 fakta berikut ini.

  1. Berpasangan Sejak Tahun 2012
Hendra/Ahsan Juara Asian Games Incheon (bulutangkis-indonesia.com)

Hendra Setiawan dan Mohammad Ahsan baru berpasangan pada tahun 2012. Sebelumnya Hendra berpasangan dengan Markis Kido dan prestasi tertingginya adalah meraih medali emas Olimpiade Beijing 2008. Sedangkan Ahsan sebelumnya berpasangan dengan Bona Septano, adik kandung Markis Kido.

Tidak perlu waktu lama keduanya untuk menunjukkan taji. Di tahun keduanya berpasangan, yaitu tahun 2013 tiga gelar Super Series berhasil diraih. Di antaranya adalah Maybank Malaysia Open Superseries, Djarum Indonesia Open Superseries Premier dan Singapore Open Superseries. Yang lebih hebatnya lagi, di tiga final tersebut mereka mengalahkan pasangan yang sama, Lee Yong-dae/Ko Sung-hyun dua set langsung. Padahal saat itu pasangan ganda putra Korea ini merupakan peringkat 1 dunia.

Belum sampai di situ, di tahun yang sama di Guangzhou, Hendra/Ahsan kembali mencatatkan prestasi gemilang dengan menjuarai Kejuaraan Dunia BWF. Mereka mengalahkan pasangan gaek Denmark, Mathias Boe dan Carsten Mogensen dua gim langsung 21-13 dan 23-21.

2. Pernah Menjadi Nomor 1 Dunia

Baru dua tahun berpasangan mereka langsung menunjukkan kualitasnya. Masih di tahun 2013, tepatnya tanggal 25 Desember 2013 mereka mengukir sejarah yang pasti akan selalu diingat oleh keduanya, karena di hari itu mereka secara resmi ditetapkan menjadi peringkat 1 dunia. Berbagai kejuaraan yang mereka ikuti membuat singgasana nomor satu dunia untuk sektor ganda putra berhasil direbut di akhir tahun.

Baca juga:  10 Kejadian Menarik Selama Perhelatan Asian Games 2018: Unforgettable Moment!

3. Juara All England 2014

Hendra/Ahsan Juara All England 2014 (badmintonindonesia.org)

Setelah berhasil mengukuhkan diri menjadi nomor satu, berbagai kejuaraan berhasil dimenangkan. Dan di tahun 2014 momen kemenangan yang paling diingat tentu saja kemengan di partai puncak kejuaraan bulu tangkis paling tua di dunia, All England. Saat itu Hendra/Ahsan mengukuhkan diri menjadi yang terbaik setelah mengalahkan ganda Jepang, Hiroyuki Endo/Kenichi Hayakawa dua gim langsung 21-19 dan 21-19. Kemenangan yang kembali diulang tahun ini.

4. Gagal di Olimpiade

Berbagai gelar berhasil diraih pasangan ini, mulai dari superseries, juara dunia hingga Asian Games. Satu lagi gelar individu yang ingin mereka sempurnakan, yaitu emas Olimpiade. Gelar paling bergengsi yang pasti diinginkan oleh semua atlet.

Namun untuk meraih itu mereka harus melalui jalan yang cukup terjal. Ini karena performa mereka yang kian menurun jelang Olimpiade Rio tahun 2016. Sempat juara di Thailand Master tahun itu, namun selanjutnya harus puas tersingkir di putaran kedua penyisihan All England. Pada Malaysia Open, Singapore Open, Kejuaraan Asia dan Indonesia Open juga hasilnya tidak jauh berbeda. Dan puncak itu semua terjadi di Olimpiade Rio.

Olimpiade Rio adalah puncak dari menurunnya performa mantan peringkat satu dunia ini. Padahal target medali emas dibebakan pada keduanya. Tergabung dalam grup D, partai pertama berhasil dimenangkan atas Attri/Reddy Sumeeth, pasangan India dua gim langsung. Namun di partai kedua mereka harus mengakui keunggulan Endo/Kenichi asal Jepang.

Di partai penentuan mereka kembali harus kalah, kali ini dari pasangan China Biao/Hong dua gim langsung. Otomatis, hasil tersebut membuat mereka berada di peringkat ketiga grup dan tidak lolos ke babak selanjutnya. Mereka terpaksa harus pulang lebih awal. beruntung, Indonesia saat itu berhasil mengamankan medali emas bulu tangkis lewat Tontowi Ahmad/Lilyana Natsir.

Baca juga:  7 Fakta Menarik Seputar Sudirman Cup, Termasuk Asal Nama Sudirman

5. Dijuluki The Daddies

The Daddies dan anak-anaknya (idntimes.com)

The Daddies atau Duo Daddies adalah julukan yang melekat pada pasangan ini. Mereka mendapat julukan itu karena merupakan ayah yang menyayangi anak-anaknya. hal itu terlihat dari aktivitasnya ketika di rumah yang kerap lebih banyak menghabiskan waktu bersama buah hatinya.

Mohammad Ahsan memiliki dua anak, putri pertamanya adalah Chayra Maritza Ahsan dan si bungsu yang berjenis kelamin laki-laki bernama King Arsakha Ahsan. Sedangkan Hendra Setiawan dikaruniai tiga anak, dua di antaranya kembar. Anak pertama dan kedua adalah Richard Heinrich Setiawan dan Richelle Hillary Setiawan. Sedangkan si bungsu bernama Russell Howard Setiawan.

6. Sempat Berpisah Satu Tahun

Tidak ada yang salah jika ingin kembali ke mantan. Seperti yang dilakukan Hendra dan Ahsan. Sempat berpisah karena dianggap sudah tidak cocok lagi pasca gagal di Olimpiade RIO, namun akhirnya kembali bersatu setahun kemudian. Satu tahun mungkin dirasa waktu yang cukup untuk mengetahui ternyata tidak ada pasangan lain yang lebih baik.

Saat itu, Hendra Setiawan memutuskan keluar Platnas dan berkarir secara profesional. Ia berpasangan dengan Tan Boon Heong, pemain ganda putra senior asal Malaysia. Pasangan gado-gado ini mulai berpasangan sejak awal tahun dan mengikuti berbagai tournamen BWF. Sebenarnya tidak terlalu buruk, namun prestasi terbaiknya hanya sampai runner up.

Tidak jauh berbeda dibanding Hendra Setiawan, Mohammad Ahsan yang saat itu masih berstatus pemain platnas berpasangan dengan Rian Agung Saputro juga sebenarnya tidak cukup baik. Sempat membuat kejutan di kejuaraan dunia tahun 2017 setelah mampu mengalahkan lawan-lawannya dan lolos hingga babak final. Sayang, di partai puncak mereka harus tunduk atas perlawanan pasangan China, Zang Nan/Liu Cheng dua gim langsung, 21-10 dan 21-17. Setelah itu mereka hampir tidak menunjukkan progres yang baik sehingga harus berpisah di akhir 2017.

Baca juga:  Praveen dan Debby Sukses Membawa Pulang Gelar Juara All England 2016

7. Sudah Keluar dari Platnas

Sejak awal tahun 2019 keduanya telah memutuskan keluar dari platnas dan bermain secara profesional. Dikabarkan, alasan keduanya memutuskan keluar adalah untuk memberikan ruang lebih pada pemain muda Indonesia agar lebih berkembang, khususnya di sektor ganda putra. Namun meski begitu, mereka tetap berlatih di platnas dengan pelatih yang sama, yaitu Herry IP. Yang membedakan adalah ketika mengikuti turnamen di luar negeri mereka berangkat dengan biaya sendiri.

The Daddies is come back! Matahari yang redup itu kini kembali bersinar. Tidak ada yang menyangka hal itu, terutama keputusan mereka untuk kembali berpasangan setelah berpisah setahun lamanya. Tentu CLBK-nya mereka membuat banyak BL (Badminton Lovers) Indonesia girang, karena banyak yang menyayangkan saat mereka memutuskan berpisah akhir 2016. Terlebih mereka berpisah di saat keduanya dalam kondisi terpuruk—gagal total di Olimpiade Rio.

Sekarang mereka kembali. Dengan chemistry yang pastinya lebih baik dari sebelum-sebelumnya. Lihat saja betapa mesranya mereka ketika di lapangan. Lalu berhasil merengkuh juara All England meski dengan kondisi yang satunya cidera.

Ya, sangat menarik ditunggu. Apa mereka mampu terus bersaing di papan atas ganda putra dunia? Di tengah banyaknya pemain-pemain muda energik bermunculan. Dan tentu saja yang paling ditunggu adalah Olimpiade, mampukah mereka kembali berlaga di sana dan memperbaiki catatannya?

Share This:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *